Tulisan ini sangat singkat. Dipersiapkan dengan waktu yang singkat pula. Oleh karena itu, tidak ada waktu untuk membuka rujukan (yang mudah-mudahan masih tersimpan di sekretariat Peradah). Tulisan ini disusun berdasarkan ingatan terhadap beberapa fakta di seputar eksistensi Peradah. Catatan dari dokumen tertulis (Catatan 20 Tahun Peradah Indonesia) tidak secara eksplisit menyatakan rincian perjuangan PERADAH (Perhimpunan Pemuda Hindu) Indonesia di Sul-Sel, melainkan hanya bersifat menyegarkan ingatan. Karena dalam catatan itu, implisit tertuang perjuangan teman-teman dari daerah ini.
Sebelum memiliki wadah formal seperti sekarang (Peradah Indonesia) generasi muda Hindu di Sulawesi Selatan telah merasakan perlunya untuk menghimpun diri. Perjalanannya kita mulai pada era akhir 70-an atau awal 80-an. Walaupun jumlahnya, di Ujung Pandang, saat itu bisa dihitung dengan jari. Hampir semua generasi muda saling kenal. Si A kuliah di fakultas anu dan tinggal di jln anu, si B sekolah di sana dan tinggal di jl anu. Hampir semua dihafal.
Memasuki awal 80-an timbul kesadaran untuk menghimpun diri dalam suatu wadah organisasi. Baik itu tingkat daerah Sul-Sel terlebih lagi pada tingkat nasional. Di Ujung Pandang, waktu itu, didirikan organisasi yang bernama Generasi Muda Astika Hindu Dharma. Motornya adalah para mahasiswa. Sekretariatnya di Asrama Bali, Jl. Sungai Saddang III/6, Ujung Pandang (kini Makassar) sebab dulu asrama ini adalah sentra pergerakan umat Hindu di Ujung Pandang. Banjar, Parisada berkantor di sini.
Secara nasional PERADAH INDONESIA didirikan tanggal 11 Maret 1984. Secara nasional, banyak hal yang bisa dicatat dalam masa awal pendirian PERADAH ini. Demikian pula secara lokal Sul-Sel, tidak kalah banyaknya.
Misalnya saja, secara nasional mahasabha I yang menghasilkan formatur, baru mampu menghasilkan kepengurusan nasional pertama setelah satu tahun. Mana lagi kisruh kecil muncul yang menyebabkan salah seorang anggota formatur keluar, dan mendirikan organisasi sejenis, yang bernama PHI (Pemuda Hindu Indonesia). Inilah yang sedikit menghambat pertumbuhan PERADAH pada awalnya. Pada masa awal konsolidasi PERADAH banyak menghabiskan energi untuk hal ini.
Di Sul-Sel sendiri, PERADAH didirikan tahun 1986. Caranya, dengan melebur organisasi yang sudah ada tadi (Generasi Muda Astika Hindu Dharma) ke dalam PERADAH. Pada saat inilah, di Sul-Sel terjadi pula tarik ulur. Apakah mengikuti PERADAH atau PHI. Kontak antara Jakarta dan Ujung Pandang waktu itu cukup intens. Tampaknya para tetua juga saling kontak, baik itu pihak yang pro PERADAH atau lainnya.
Akhirnya generasi muda Sulawesi Selatan waktu itu memilih bergabung dengan yang pembentukannya prosedural. Dalam hal ini patut dicatat dukungan tokoh Hindu Sul-Sel, di antaranya: Bpk. Kol. Pol. Yasa Tohjiwa, Bpk. Drs. I Gusti Made Ngurah (mantan Kakanwil Depag Bali). Di rumah Bapak Yasa Tohjiwa-lah disusun kepengurusan pertama (1986 – 1990) PERADAH Indonesia Sul-Sel. Beliau yang memfasilitasi kebutuhan pendirian organisasi ini.
Setelah dilantik pengurus mulai melakukan konsolidasi. Secara intern menata diri dan mendata anggota, membentuk kepengurusan di daerah, serta mendekati orang tua. Secara ekstern memperkenalkan organisasi ini kepada lingkungan eksternal. Mendaftarkan diri pada pemerintah daerah, mendekati pengurus KNPI dan mendaftarkan diri menjadi anggota, serta berusaha senantiasa ikut serta dalam berbagai kegiatan yang dilakukan pihak luar. Dengan usaha-usaha tersebut keberadaan PERADAH makin dikenal masyarakat.
Kepengurusan pertama (1986-1990) berhasil menjalankan program keorganisasian dengan membentuk 4 DPD II (Luwu, Makassar, Tana Toraja, dan Mamuju – dulu Mamuju adalah salah satu kabupaten yang masuk wilayah Sul-Sel, kini masuk dalam administrasi Sul-Bar). Pada masa ini juga sudah dijajagi pembentukaan DPD Kab. Sidrap. Penduduk dan tokoh pemuda dan orang tua menyanggupi, namun sampai berakhir kepengurusan DPD I, kepengurusan Sidrap belum bisa disusun.
Di samping program keorgansisasian tersebut, beberapa program lain dilaksanakan. Pada masa ini banyak kendala yang dihadapi, baik intern maupun ekstern. Di antaranya – masalah klasik- yakni hambatan dana, kekurangan kader, hal ini yang sangat terasa, serta lainnya. Modal pergerakan terbesar adalah semangat. Dikatakan demikian, karena untuk menjajagi pembentukan DPD Sidrap, kami rela naik motor butut berenam ke sana. Jangan dibayangkan kondisi motornya seperti motor yang dipakai generasi sekarang.
Kepengurusan kedua (1990 – 1994) berhasil membentuk satu lagi DPD II, yang pembentukannya terasa begitu istimewa, yakni Polmas (Polewali Mamasa – kini masuk Sul-Bar). Terasa istimewa karena semua pengurus dan anggotanya adalah 100 % penduduk asli dan kehadirannya mengalami hambatan dan tantangan dari umat lain di wilayah itu, yang cukup membuat pengurus dan calon pengurus tegang. Kami sempat diisolasi dan diamankan di rumah adat (Tongkonan) selama dua hari dua malam, dengan pengawalan teman-teman di sana.
Pada masa kedua ini pula sempat dilaksanakan beberapa even yang cukup besar, di antaranya Peradah Cup di Kab. Luwu (kini kabupaten ini dibagi menjadi 4). Lalu mengikuti beberapa even nasional di Jakarta, Jogyakarta, dll.
Kepengurusan ketiga (1994-1997) meneruskan program yang telah tersusun. Pada masa ini sempat diadakan pendidikan kepemimpinan. Penjajagan pembentukan DPD yang masih memungkinkan terus dilakukan. Program Peradah Cup diteruskan. Menerbitkan buletin yang diberi nama Giri Natha dicoba, dan berjalan dengan baik. Buletin ini diedarkan di Ujung Pandang dan juga dikirim ke DPD II dan PHDI di daerah. Sambutan umat terhadap buletin ini cukup baik. Sempat juga diedarkan beberapa eksemplar sampai ke Bandung, Jakarta, dan Jogyakarta, saling bertukar dengan buletin yang diterbitkan teman-teman di sana.
Pada masa kepengurusan keempat dan seterusnya masalah yang berhubungan dengan eksistensi hampir tidak ada. PERADAH sudah begitu dikenal dan diterima masyarakat sampai ke pelosok permukiman umat. Kita boleh berbangga atas hal itu. Di samping itu, telah lahir pula wadah-wadah berhimpun bagi kader muda Hindu. Yang menjadi tugas berikutnya adalah menjalin dan meningkatkan intensitas komunikasi dengan kader-kader muda Hindu agar dapat berjalan baik.
Kerja sama dengan pihak-pihak luar perlu dibangun dalam menyusun dan melaksanakan program-program pembinaan. Di samping terus menggalang kemampuan membina diri sendiri. Keberanian untuk tampil pada forum-forum multietnis, multiras, multiagama hendaknya terus ditumbuhkan. Demikian pula partisipasi dalam kegiatan eksternal yang melibatkan banyak elemen masyarakat perlu ditingkatkan.
Semua usaha tersebut diarahkan untuk turut menata kehidupan bermasyarakat dan bernegara bagi generasi muda Hindu di tengah-tengah berbagai tantangan sebagai anak bangsa. Berperan dalam kehidupan bernegara adalah salah satu Dharma kita. Dengan turut serta dalam berbagai aksi, kiranya generasi musa Hindu dikenal dan diperhitungkan sebagai salah satu potensi anak bangsa. Dengan demikian, kita tidak akan sekadar menjadi penonton dalam berbagai percaturan aktivitas bangsa dan tidak diperhitungkan. Hal ini hendaknya diubah. Pada beberapa daerah (Mamuju, Mamuju Utara yang sekarang masuk Sul-Bar, Luwu Utara, Luwu Timur, Mamasa, Sidrap) dari segi kuantitas kita memiliki posisi tawar yang signifikan. Namun selama ini tidak tersadari.
Menyadari potensi dan posisi tawar kita bukan untuk maksud apa-apa, melainkan hanya untuk kesadaran bahwa kita adalah bagian dari bangsa ini yang perlu diperhitungkan dalam pengambilan kebijakan. Kita juga sebagai warga negara punya hak dan kewajiban yang sama dengan warga lain. Sebagai contoh, jika tempat ibadah umat lain mendapat perhatian dalam APBD suatu daerah, tempat ibadah kita juga kiranya demikian. Demikian pula dalam masalah lain. Kiranya hal ini menjadi catatan kecil bagi kita semua.
Sebagai akhir catatan ini, berikut adalah pimpinan kepengurusan PERADAH Indonesia Sul-Sel sejak awal berdirinya.
Demikian catatan kecil ini disusun dengan segala keterbatasan. Semoga ada manfaatnya.
Name Swaha,
N. Darmayasa
(Mantan Ketua DPD PERADAH INDONESIA Sul-Sel priode 1994-1997)
Om Swastyastu. Saya sangat bangga dengan keberadaan dan kemajuan hindu dan juga organisasi hindu termasuk peradah di makassar/sulawesi selatan, apalagi sekarang ditambah dengan web hindu sulsel. luar biasa….. sukses selalu….hebat…. Semoga di tahun-tahun mendatang peradah sulsel tetap mampu memberi kontribusi maksimal bagi kemajuan hindu di tanah sulawesi. Om santih, santih, santih, Om
Om Swastyastu….
Suksme Man, telah berkesempatan nengok-nengok pondok Hindu Sul-Sel di dunia maya. Mohon sumbangan untuk mengisinya man. Kirim saja di email tyang ini. Sekali lagi suksme. Salam buat semua teman mantan pengurus Peradah yang sekarang pulang ke Bali. Om Santih, Santih, Santih,…
om swstystu, maaf selum x bli tiang cuma mau nanya apakah pradah di indonsia masih ada skarang, soalnya kami pemuda d kalimantan selatan sejak dulu kepengurusannya seteleh dalantik tahun 2005 tidak ada satupun kegiatan yang kami lakukan,,ketua ya yng menjabat pun udah lepas tangan bgitu aja.mohon petunjuk bli agar kami bisa mengiaktfkan lagi peradah soalnya kami sksrang generasi muda ngk tau apa itu peradah.saya cuma tau sekilas aja tentang peradah sejak saya sma skarang saya udah kuliah ingin rasanya membngkitkan peradah lagi.
Om Swastyastu,
Terima kasih telah mampir di pondok kami. Mengenai pertanyaan dan pernyataan Man Budi, dapat tyang sampaikan tanggapan berikut:
1. Peradah sampai saat ini masih eksis, baik di Pusat maupun di Sul-Sel. Banyak kegiatan yang sudah dilakukan, baik itu yang berhubungan dengan Dharma Negara maupun Dharma Agama.
2. Sayang sekali kalau di Kaltim seperti itu, yang sejak 2005 dilantik kok tidak ada kegiatan.
3. Coba Man Budi hubungi/kontak DPN Peradah di Jakarta, atau buka situsnya: http://www.peradah.org.
4. Peradah adalah wadah generasi muda Hindu untuk mematangkan diri secara mental spiritual keagamaan.
5. Coba saling kontak dengan Ketua Peradah Sul-Sel, Gede Durahman, ini No. HP-nya: 08124166264. Dia sekarang yang menggerakkan Peradah di Sul-Sel. Kalau di Sul-Sel, Peradah sangat dikenal, baik di lingkungan umat Hindu maupun di luar umat Hindu (di pemerintahan atau dengan OKP lain).
Nah, selamat berjuang Man. Semoga semangat ke-Hindu-an tetap menyala di hati. Satyam eva jayate…
Om Santih Santih Santih….
sekali lagi suksme…
Bli, koreksi utk sekretaris di kepengurusan tiang (1997-2000). Sekretaris yang pertama I ketut Suarya wibawa, SE alias ketut Moleh. Karena beliau pindah ke balikpapan, di lakukan resufle. penggantinya adalah Lissak, SE. Sukses selalu and salam utk teman-teman makassar.
Suksme sudah mampir di situs Hindu Sul-Sel Tut dan terima kasih atas koreksinya. Bli agak lupa. Oh ya, sudah donlod buku yang bli maksud di Makassar itu Tut? Bli kirim satu bab kayaknya di emailnya Mama Febi.
Makasi bli. Minta maaf baru sempat balas. Berikutnya kirim via emailku saja. Sudah aktiv sekarang, he..he… Emailku : suarayasa@yahoo.com. Salam untuk teman-teman makassar and sukses selalu. O,ya..tolong bantu infokan tentang STAH Palu. Siapa tau ada yang berminat masuk disini. Pendaftaran gelombang I sudah dimulai. Nanti tiang kirimkan formulirnya via emailnya bli. Suksme