Berjalan tanpa Kama

Indra-indra, pikiran dan intelegensia (buddhi) adalah tempat-tempat nafsu itu bersemayam. Mencegah kebijaksanaan dengan ini, nafsu menggelapkan sang jiwa yang ada di dalam tubuh.( BG. III.40)
Kama atau nafsu setiap saat mencegat kita di pintu-gerbang indra-indra, kemudian kama ini akan menduduki serta meruntuhkan benteng pikiran, selanjutnya akan masuk ke daerah buddhi (intelegensia) dan menghancurkan kekuatan batin [...]

Kesempurnaan lewat Kerja

Seyogyanyalah dikau selalu mengerjakan kewajibanmu tanpa rasa keterikatan, karena dengan bekerja tanpa pamrih seseorang akan mencapai kebahagiaan dan kebenaran (Parama) Yang Tertinggi.
Janaka dan juga yang lain-lainnya benar-benar mencapai kesempurnaan dengan   bekerja. Dan dikau pun seharusnya bekerja dengan dasar kesejahteraan dunia ini. (BG. III. 19-20)

Kemandirian dalam Kebenaran

Seseorang yang bahagia di dalam Sang Atmannya sendiri, yang merasa cukup dengan Dirinya, dan selalu puas oleh Dirinya untuk orang semacam ini sebenarnya tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
la tidak punya kepentingan pribadi di dunia ini baik ia melakukan sesuatu maupun ia tidak melakukan sesuatu. la tidak bersandar kepada siapapun untuk mencapai (atau mendapatkan) sesuatu [...]

Hidup itu Pengorbanan

Seseorang yang hidup di dunia ini tanpa mau menggerakkan roda-roda pengorbanan, adalah seorang yang penuh dengan dosa dan (diselimuti) nafsu-nafsu duniawi. Orang semacam ini,  hidup secara sia-sia. (BG. III.16)
Seorang yang hidupnya adalah hanya untuk diri-pribadinya sendiri, sebenarnya kehilangan nilai-nilai kehidupan yang berarti, nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya. Manakala kesendirian akan tiba, tidak ada yang bisa menolongnya. [...]

Berhasil itu Ada di Kendali Pikiran

yas tv indriyāṇi manasā
niyamyārabhate ‘rjuna
karmendriyaiḥ karma-yogam
asaktaḥ sa viśiṣyate
On the other hand, if a sincere person tries to control the active senses by the mind and begins karma-yoga without attachment, he is by far superior.
Barangsiapa yang mengendalikan indra-indranya dengan pikirannya,  dan tanpa keterikatan mempekerjakan organ tubuhnya demi aksi atau pekerjaannya, maka ia disebut berhasil (BG. III.7).
 

Munafik

karmendriyāṇi saḿyamya
ya āste manasā smaran
indriyārthān vimūḍhātmā
mithyācāraḥ sa ucyate
 

 
 
 
One who restrains the senses of action but whose mind dwells on sense objects certainly deludes himself and is called a pretender.(Seseoranq yang tampak tenang, tidak bertindak apapun dengan organ-organ sensualnya (indra-indranya), tetapi di dalam benaknya justru terpikirkan obyek-obyek sensual; orang yang demikian ini disebut orang yang munafik) [...]

Tidak ada yang bisa menghindar dari Kerja

na hi kaścit kṣaṇam api
jātu tiṣṭhaty akarma-kṛt
kāryate hy avaśaḥ karma
sarvaḥ prakṛti-jair guṇaiḥ

Everyone is forced to act helplessly according to the qualities he has acquired from the modes of material nature; therefore no one can refrain from doing something, not even for a moment. (
Tak seoranq pun dapat lepas dari kerja, walaupun hanya sejenak; karena setiap [...]