DOSA ORANG YANG TIDAK BERBHAKTI (MENGASIHI) CATUR GURU

Om Swastyastu,

Sebelum kami menguraikan tentang dosa dan bhakti trerhadap catur guru terlebih dahulu ada beberapa mantram dalam Atharva Weda.

Atharvaveda I .27.2

Asamrdda aghayavah

Yang artinya pelaku dosa tak pernah berhasil

Atharvaveda VIII.4.13

Na vau somo vrjinam hinoti

Yang artinya Hyang Widhi tidak menolong orang yang jahat

Atharvaveda II.12.6

Tapumsi tasmai vrjnami santu.

Artinya Perbuatan jahat orang yang berdosa membuat kehidupan menjadi tersiksa.

Dari mantram yang telah diuraikan kami uraikan dalam dharma agama dan dharma negara. Perbuatan dosa tidak pernah berasil baik, sebab kebaikan tidak pernah bersahabat  dengan kejahatan.Hyang Widhi tidak menolong orang yang berdosa. Bila orang sadar akan dosa lakukan prayascitta, penyucian  diri dengan dengan sebanyak-banyaknya berbuat baik. Perbuatan jahat tidak berumur panjang dan pelaku kejahatan selalu menderita. Bagaimana membebasdkan diri dari perbuatan dosa dan kejahatan, caranya adalah jangan menyerah atau mengikuti sifat-sifat yang buruk. Sebab terjadinya dosa zaman kaliyuga ini dinyatakan salah satunya : Menginginkan barang/jasa bukan milik kita, menyalahgunakan jabatan/pangkat untuk mendapatkan harta, sinah/selingkuh, minuman memabukkan, keadaan bahaya, judi, dan sejenisnya.

Berbhati Kepada Catur Guru.

Dalam Gurustotra 1, diuraikan mantramnya sebagai berikut :

Dhyàna mùlaý gurur murtiá
Pùjà mùlaý gurur padam,
Mantraý mùlaý gurur vàkyaý
Mokûa mùlam gurur kåpam

(Pada saat mulai belajar pusatkanlah pikiran pada sosok sang guru,
saat mulai melakukan pemujaan, berbaktilah di depan kaki guru,
mantram adalah ajaran pertama kali keluar dari ucapan guru
dan untuk mencapai Moksa mulailah dari karunia guru)
Kedudukan Guru

Istilah guru dalam bahasa Indonesia berasal dari kosa kata Sanskerta yang artinya: berat, besar, kuat, luas, panjang, penting, sulit, jalan yang sulit, mulia, terhormat, tersayang, agung,sangat kuasa,orang tua (bapak-ibu) dan yang memberikan pendidikan. Istilah lainnya adalah Àcàrya, Adhyapaka, Upadhyaya dan Úiva. Kosa kata yang terakhir ini artinya adalah: yang memberikan keberuntungan atau kerahayuan. Dalam pengertian yang lebih luas, guru adalah yang mendidik pribadi, yang mencurahkan ilmu pengetahuan sucinya dan yang membebaskan siswanya dari lembah penderitaan serta yang membimbing untuk mencapai Moksa sebagai tersebut pada Gurustotra Pengertian tentang guru, terutama penghormatan yang patut diberikan kepada ibu-bapa dan guru yang mendidik secara terinci.

sebagai guru tertinggi dari alam semesta ini tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Guru Param Brahma atau Parameûþiguru sebagai dinyatakan dalam Gurupuja 2, berikut:

Oy Gurur Brahma Gurur Visnuóu
Gurur deva Maheúvara,
Gurur sàkûat Param Brahma
tasmai Úrì gurave namaá.

(Om Hyang Widhi, Engkau adalah Brahma, Visnu dan
Mahedewa, sebagai guru agung, pencipta, pemelihara
pelebur alam semesta. Engkau adalah Guru Tertinggi,
Param Brahma, kepada-Mu aku memuja)

Guru tertinggi di dalam lontar-lontar di Bali kita mengenal Tri Kang Sinanggeh Guru (tiga orang yang disebut guru) atau Triguru, yaitu: Gururùpaka (orang tua, bapa-ibu), Gurupangajyan (guru yang memberi pendidikan dan pengetahuan suci untuk mendapatkan kesempurnaan) dan Guruviúesa (pemerintah yang menjadi abdi kesejahtraan rakyat dan tempat berlindung di kala kesusahan). Di antara ketiga guru itu, Gurupangajyan mendapat penghormatan yang lebih dibandingkan kedua guru lainnya, karena guru Pangajyan adalah guru yang tidak hanya memberikan kesejahtraan jasmani, tetapi ia yang memberikan kebahagiaan rohani yang disebut Dharma, yaitu pendidikan suci berupa kebajikan dan kesucian peribadi.

Gurupangajyan adalah perubahan metathesis dari Guru Pangadhyayan atau Guru Adhyàya atau guru kerohanian.

Setiap orang hendaknya belajar pada hal-hal yang baik yang dapat memberikan teladan dalam berbuat dan bertingkah laku yang baik dan benar. Demikian antara lain beberapa jenis guru yang dapat diungkapkan berdasarkan susastra Hindu, selanjutnya bila kita mengkaji kedudukan guru, maka Paramestiguru adalah yang paling tinggi, Guru Pangjyan lebih tinggi dipandang dari Guru Wisesa maupun Guru Rùpaka, karena Guru Pangjyan memberikan kesucian rohani. 

Zaman Kali

Di dalam berbagai kitab Purana ditengarai bahwa sejak penobatan prabhu Parikûit cucu Arjuna sebagai maharaja Hastina pada tanggal 18 Februari 3102 SM., umat manusia telah mulai memasuki jaman Kaliyuga (Gambirananda, 1984 : XIII). Kata Kaliyuga berarti jaman pertengkaran yang ditandai dengan memudarnya kehidupan spiritual, karena dunia dibelenggu oleh kehidupan material. Orientasi manusia hanyalah pada kesenangan dengan memuaskan nafsu indrawi (Kàma) dan bila hal ini terus diturutkan, maka nafsu itu ibarat api yang disiram dengan minyak tanah atau bensin, tidak akan padam, melainkan menghancurkan diri manusia.

Ciri jaman Kali (Kaliyuga) semakin nyata pada era globalisasi yang ditandai dengan derasnya arus informasi, dimotori oleh perkembangan teknologi dengan muatan filsafat Hedonisme yang hanya berorientasi pada material dan usaha untuk memperoleh kesenangan nafsu berlaka. Dengan tidak mengecilkan arti dampak postif globalisasi, maka dampak negatifnya nampaknya perlu lebih diwaspadai. Globalisasi menghapuskan batas-batas negara atau budaya suatu bangsa. Budaya Barat yang sekuler sangat mudah diserap oleh bangsa-bangsa Timur dan bila hal ini tidak terkendalikan tentu menghancurkan budaya atau peradaban bangsa-bangsa Timur.

Seperti telah dijelaskan secara sepintas tentang arti kata Kaliyuga atau jaman pertengkaran atau masyarakatnya suka bertangkar dan kemudian mengarah kepada peperangan, kini dapat kita rasakan, di mana-mana nampaknya masyarakat mudah tersulut pada pertengkaran.

Pusat-pusat pertengkaran yang menghancurkan kehidupan manusia digambarkan dalam kitab Skanda Puràóa, XVII.1, antara lain pada : minuman keras, perjudian, pelacuran, dan harta benda/emas. Hal ini adalah logis, karena pada tempat-tempat tersebut merupakan arena yang sering mengobarkan pertengkaran. Minuman keras menjadikan seseorang mabuk dan bila mabuk maka pikiran, perkataan dan tingkah lakunya sulit untuk dikendalikan. Demikian di tempat judian, pelacuran dan persaingan mencari harta benda yang tidak dilandasi oleh Dharma (kebenaran), di tempat-tempat tersebut sangat peka meletupnya pertengkaran yang kadang-kadang berakibat fatal, yaitu pembunuhan.

Kehidupan modern yang sekuler,mengantarkan manusia pada kehancuran dan hal ini semakin nyata pengaruhnya dewasa ini. Nilai-nilai moralitas, nilai kemasyarakatan dan ritual Hindu menghadapi tantangan, apakah hal-hal tersebut mampu dipertahankan atau sebaliknya ditinggalkan oleh umatnya? Solusi untuk mengantisipasi permasalahan tersebut hendaknya dikaji secara seksama, sehingga agama Hindu sesuai dengan namanya yakni Sanatana Dharma, agama yang abadi atau berlaku sepanjang jaman benar-benar menjadi pedoman, suluh penerang yang memberikan kebahagiaan kepada umatnya.

Di antara berbagai bentuk tantangan dalam menghadapi globalisasi yang bercirikan filsafat Hedonisme yang berorientasi pada usaha mencari kekayaan material sebanyak-banyak sebagai sarana untuk memperoleh kesenangan duniawi, maka tantangan yang berat bagi umat beragama adalah menegakkan nilai-nilai moralitas, di samping etika dan spiritual seperti pula diamanatkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara sebagai pedoman dasar melaksanakan pembangunan nasional di segala bidang.

Kondisi masyarakat dewasa ini nampaknya persis sama dengan penggambaran
Viûóu Puràóa, sebagai berikut :

“atha evà bhijana hetuá, dhanam eva aúesadharma hetuá
abhirucir eva dàmpatyasaýbandha hetuá, aórtam eva
vyavahjayaá strìtvam eva’pabhoga hetuá………………….
……..brahma sùtram eva vipratve hetuá liòga dhàraóam
eva aúrama hetuá”

Viûóu Puràóa IV. 24. 21-22.
(Masyarakat hancur karena harta benda hanya berfungsi meningkatkan
status sosial/kemewahan bagi seseorang,materi menjadi dasar kehidupan
kepuasan hidup hanyalah kenikmatan seks antara laki-laki dan wanita,
dusta menjadi sumber kesuksesan hidup. Seks merupakan satu-satunya
sumber kenikmatan dan kesalahan merupakan hiasan bagi kehidupan
spiritual)

Demikian pula di dalam kitab Vànaparva, Mahàbhàrata keterangan serupa dapat kita jumpai sebagai berikut :

“Pada jaman Kaliyuga para Brahmana tidak lagi melakukan upacara
yajña dan mempelajari kitab suci Veda. Mereka meninggalkan tongkat
dan kulit menjangannya dan menjadi pemakan segala (sarvabhàkûa).
Para Brahmana berhenti melaksanakan pemujaan dan para Sudra
menggantikan hal itu.

“Kelaparan membinasakan kehidupan manusia, jalan-jalan raya dipenuhi
oleh wanita yang reputasinya jelek.Setiap perempuan bertengkar/bermu-
suhan dengan suaminya dan tidak memiliki sopan santun .

“Para Brahmana diliputi oleh dosa dengan membunuh para dwijati dan
menerima sedekah dari para pemimpin yang tidak jujur.

“Pada jaman itu orang – orang bertentangan hidupnya dengan nilai-nilai
moralitas,mereka kecanduan dengan minuman keras, mereka melakukan
penyiksaan walaupun di tempat tidur gurunya. Mereka sangat terikat
keduniawian.Mereka hanya mencari kepuasan duniawi terutama daging
dan darah.

“Pada jaman itu ashram-ashram para pertapa dipenuhi oleh orang-orang
berdosa dan orang-oranng angkara murka yang malang yang selalu me-
ngabdikan hidupnya pada ketergantungan duniawi.

“Pada jaman itu orang-orang tidak suci baik dalam pikiran dan perbuatan
nya karena mereka iri hati dan dengki. Bumi ini dipenuhi oleh orang-
orang yang penuh dosa dan tidak bermoral.

“Para wanita mudah celaka, melakukan perbuatan yang tidak pantas dan
melakukan perbuatan yang tidak terpuji, menipu suami-suami mereka
yang berbudi pekerti luhur,
melupakan mereka bahkan berhubungan de-
ngan pelayannya dan atau dengan binatang sekalipun.

Aktualisasi Ajaran Catur Guru Bhakti

Mampukah agama Hindu menghadapi arus globalisasi yang sangat dahsyat dewasa ini ? Masihkah relevan rasa bhakti kepada Catur Guru dalam era globalisasi dewasa ini ? Sepintas lalu telah diungkapkan kondisi negatif era globalisasi dewasa ini. dengan tidak mengurangi dampak positif globalisasi ini, globalisasi ditandai oleh kecendrungan penyeragaman tata nilai(hal ini disadari ataupun tidak oleh masyarakat), pola pikir dan pola kerja nampaknya lebih cepat dan lebih baik serta ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Globalisasi juga memperlihatkan kecendrungan dominasi masyarakat maju terhadap masyarakat yang sedang berkembang. Apabila kita kurang arif memberi konsesi,maka umat Hindu akan tidak saja kehilangan identitas,
tetapi juga akan terjadi pendangkalan pengamalan agama dan sangat berbahaya bila pengaruh filsafat hedonisme yang permissif berkembang pesat. Kekuatan global juga mengandung prinsip – prinsip : individualisme, sekulerisme dan materialisme yang menghendakiindividu selalu bersaing terhadap yang lain untuk memperoleh kemakmuran material, menjadi kaya dan berkuasa, sesuai dengan sifat dari hedonisme itu, yakni mengejar kemewahan dan untuk memuaskan nafsu duniawi.
Kesimpulan

Pada dasarnya dosa/pahala  itu timbul dari tri kaya parisudha, untuk itu selalulah sucikan pikiran perkataan dan perbuatan, sehingga pada zaman kali ini kita sebagai umat Hndu bisa memilah-milah yang mana perbuatan dharma dan yang mana perbuatan adharma. Bila kita menjalankan dharma agama maupun dharma agama untuk berbhakti kepada catur guru, pasti  akan menghasilkan pahala dan sebaliknya bila tidak berbhakti akan menimbulkan  dosa.

Harapan

Kepada Seluruh Umat Hindu, marilah kita sama-sama berusaha untuk selalu berbhakti kepada catur guru, karena semua pikiran perkataan dan perbuatan kita ini dipersembahkan padanya.

Demikian yang dapat kami sampaikan, kalau yang bermanfat, itu bersumber dari kitab suci Weda, bila sebaliknya adalah kesalahan kami pribadi sebagai manusia yang tidak sempurna.  

Om Santih, Santih, Santih OM

Makassar, 29 Januari 2010

Pembawa Dharma Wacana,

 

Wayan Suardana

Posted by yassa on Feb 2nd, 2010 and filed under Dharma Wacana, News, PHDI Kota Makassar. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response by filling following comment form or trackback to this entry from your site

Leave a Reply