Seseorang yang hidup di dunia ini tanpa mau menggerakkan roda-roda pengorbanan, adalah seorang yang penuh dengan dosa dan (diselimuti) nafsu-nafsu duniawi. Orang semacam ini, hidup secara sia-sia. (BG. III.16)
Seorang yang hidupnya adalah hanya untuk diri-pribadinya sendiri, sebenarnya kehilangan nilai-nilai kehidupan yang berarti, nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya. Manakala kesendirian akan tiba, tidak ada yang bisa menolongnya. Manakala ia harus berhadapan dengan Sang Maut, kesadaran itu sudah terlambat. Saat itu, kita betul-betul hanya sendirian. Kita hanya ditemani oleh seluruh hasil perbuatan (karma wasana). Aksamayang titiyang…