RITUAL TUDANG SIPULUNG TAHUN 2010

Ribuan orang berkumpul. Mereka berasal dari segala lapisan. Dari kalangan rakyat biasa sampai kalangan pejabat berbaur menjadi satu. Dari anak-anak sampai orang tua menyatukan diri menjadi sebuah kumpulan manusia yang jumlahnya ribuan.

Mereka tak lagi menghiraukan kedudukan. Tak ketahuan lagi siapa menduduki apa, jabatannya apa, posisi formalnya apa. Pokoknya mereka berkumpul dan berkumpul serta bersama-sama merasakan kedamaian dalam berkumpul. Dalam posisi ini mereka hanya datang dan tak lagi memandang apa kedudukannya.

Itulah tudang sipulung yang dilaksanakan umat Hindu dari etnis Bugis di Kab. Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, tanggal 24 Januari 2010. Umat  Hindu di daerah ini menyebut diri mereka Hindu To Lotang (Tolotang).

Tudang sipulung adalah ritual tahunan seluruh warga Hindu Tolotang. Di mana pun mereka berada, pada saat acara ini diadakan, mereka berusaha untuk datang. Seluruh warga merasa punya beban dan kewajiban untuk datang dalam acara ini. Banyak di antara mereka yang datang dari luar kabupaten Sidrap, bahkan dari luar Sul-Sel, karena memang warga ini banyak yang telah sukses dalam perantauan.

Ritual tudang sipulung berlangsung di sebuah tempat yang dianggap suci oleh mereka, yaitu di Parinyameng, Kec. Tellu Limpoe (Amparita). Luas tempat ini kurang lebih 5 ha. Jarak tempat ini dari ibukota kabupaten Sidrap, sekitar 15 km. Sedangkan jarak kota kecamatan, sekitar 5 km. Seluruh warga berjalan kaki menuju ke tempat acara tanpa alas kaki. Jalan sepanjang itu dipenuhi oleh warga yang berjalan kaki.

Ritualnya sendiri berlangsung di tempat khusus (semacam utama mandala), yang dikeliling pagar khusus, yang hanya boleh dimasuki oleh tokoh-tokoh tertentu. Umat kebanyakan secara bergantian akan menerima sesuatu (semacam wasuhpada)dari tokoh ini. Umat berdesak-desakan menuju ke tempat ini namun tetap tertib. Umat yang belum mendapat giliran, akan menunggu dengan tertib di tenda-tenda besar yang mereka siapkan secara gotong royong. Ada juga yang menunggu di bawah pohon, yang memang banyak tumbuh subur di lokasi ini.

Di lokasi ini banyak tenda didirikan. Ada tenda untuk para undangan dan para tokoh. Ada juga tenda umat kebanyakan. Semua mereka dirikan dengan bergotong royong. Proses pengerjaannya berjalan begitu saja, tanpa ada yang perlu diperintah. Semua kebutuhan pendirian tenda dan berbagai keperluan untuk menjamu tamu/undangan, juga disediakan secara gotong royong. “Saya tidak tahu menahu, mereka sediakan semua. Tidak ada yang memerintah mereka” begitu kata Wak Narto (Sunarto Ngate), seorang tokoh Hindu Tolotang, yang juga menjabat sebagai ketua PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) kab. Sidrap.

Di tenda undangan tampak hadir pejabat di daerah ini. Yang hadir pada saat Tudang Sipulung tanggal 24 Januari 2010 antara lain Wakil Bupati Sidrap, Dandim, Kapolres, serta beberapa anggota DPRD, baik itu dari kalangan luar umat maupun dari dalam sendiri. Dari umat Hindu Tolotang sendiri saat ini ada dua legislator yang terpilih.

Selain itu, hadir pula Dirjen Bimas Hindu Departemen Agama RI yang diantar oleh Pembimas Hindu Kanwil Depag Sul-Sel, Ketua PHDI Sul-Sel dan anggota rombongan lain yang berjumlah 5 orang.

Posted by yassa on Jan 24th, 2010 and filed under News, PHDI Prop. Sulsel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response by filling following comment form or trackback to this entry from your site

Leave a Reply