<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Komunitas Hindu Sulawesi Selatan</title>
	<atom:link href="http://hindu-sulsel.org/in/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hindu-sulsel.org/in</link>
	<description>Media Informasi Hindu dari Bumi Angin Mamiri</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Mar 2010 05:06:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>MELAYANI DALAM KONSEP HINDU</title>
		<link>http://hindu-sulsel.org/in/archives/melayani-dalam-konsep-hindu/</link>
		<comments>http://hindu-sulsel.org/in/archives/melayani-dalam-konsep-hindu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 05:06:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dharma Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[PHDI Kota Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[sevanam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hindu-sulsel.org/in/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[OM AWIGNHAM ASTU NAMA SIDHAM
OM ANOBHADRAH KRATAWO YANTU WISWATAH
OM SUASTYASTU
Para pinandita yang saya sucikan, bapak-bapak/ibu-ibu serta adik-adik yang saya hormati dan saya kasihi. Marilah kita tak pernah henti untuk memanjatkan puja dan puji syukur Anghayubahagia kehadapan Ide Hyang Widhi Wasa. Atas segala karunia dan kasih-Nya sehingga kita masih bisa hadir ditempat yang kita sucikan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>OM</em><em> AWIGNHAM ASTU NAMA SIDHAM</em></p>
<p><em>OM</em><em> ANOBHADRAH KRATAWO YANTU WISWATAH</em></p>
<p><em>OM</em><em> SUASTYASTU</em></p>
<p>Para pinandita yang saya sucikan, bapak-bapak/ibu-ibu serta adik-adik yang saya hormati dan saya kasihi. Marilah kita tak pernah henti untuk memanjatkan puja dan puji syukur Anghayubahagia kehadapan Ide Hyang Widhi Wasa. Atas segala karunia dan kasih-Nya sehingga kita masih bisa hadir ditempat yang kita sucikan ini pada persembahyangan  Tilem hari ini.</p>
<p>Pada kesempatan ini saya diberi mandat oleh PHDI kota Makassar untuk membawakan Dharma Wacana dengan judul “<strong><em>Melayani Dalam Konsep Hindu</em></strong>“ melayani dalam Hindu adalah sebuah keharusan. Karena untuk dapat menjalankan <strong><em> Karma Yoga</em></strong> dengan baik maka melayani (seva) harus dilakukan. Barang siapa yang tidak mau melayani maka janganlah hendaknya berharap untuk mendapatkan pelayanan. Pelayanan (seva) adalah penopang kesempurnaan ke-Empat jalan menuju Hyang Widhi Yang telah ditetapkan dalam Weda. Yaitu : <strong>Raja Yoga, Jnana</strong> <strong>Yoga, Bhakti Yoga dan Karma Yoga</strong>.Melayani dalam konsep Hindu meliputi hampir semua jenjang kehidupan manusia. Dari lahir sampai mati. Bayi yang baru lahir mendapat pelayanan dari ibunya dengan penuh cinta kasih tanpa harapan untuk mendapat balasan. Demikianlah hendaknya pelayanan itu dilakukan berlandaskan cinta kasih seperti kasih ibu kepada anaknya. Makanya setelah ibu bapaknya menjadi tua si-anaklah yang berkewajiban untuk melayaninya. Jangan sampai terjadi setelah ibu/bapaknya tua renta ditelantarkan oleh anaknya, tidak mendapatkan pelayanan selayaknya. Karena Sarasamuscaya 247 menyebutkan “ <strong>kunang ikang iniggatan deni ibunya, makahetu pratikulanya, ya ika daridra negaranya, ya ika anemu duhkha negaranya, ya ika gumawe cunyaning rat negaranya”. </strong><em>Artinya orang yang ditinggal oleh ibunya, yang disebabkan karena bermusuhan dengannya miskinlah orang itu disebut, mengalami duka nestapa, dan hal itu menyebabkan dunia seakan – akan tidak ada apa-apanya</em>, <em>sepi adanya</em>. Oleh karena itu layanilah ibu / bapak kita dengan penuh cinta kasih.</p>
<p>Bapak / ibu umat sedharma yang saya hormati, pelayanan itu harus kita berikan kepada orang – orang yang membutuhkan pertolongan, agar menjadi tepat sasaran. Menjadi sia-sialah pelayanan itu bila dilakukan pada orang yang tidak membutuhkan. Pelayanan yang paling mudah untuk dilakukan adalah  “<strong>SENYUM” </strong>karena senyum itu adalah karunia Hyang Widhi yang  bernilai tinggi, karena senyum memiliki seribu makna. Orang yang senyum menandakan hatinya bahagia, karena senyaman si A  jadian dengan si B. dan dalam sembahyang kita diharapkan tersenyum sebagai wujud bakti/kasih kepada-Nya. Sehingga ada ungkapan berikanlah senyum-mu pada semua orang, tapi cintamu  hanya untuk satu seorang.</p>
<p>Landasan kita dalam melaksanakan pelayanan adalah; <strong>kebenaran (sathya), kebajikan (Dharma), cinta kasih (Prema), kedamaian (Shanty), tanpa kekerasan (Ahimsa). </strong>Kalau ini menjadi landasan pijak dalam melayani, maka pelayanan itu akan berkualitas dan tanpa pamerih. Dalam 7 (tujuh) persyaratan  sebuah yadnya dikatakan  berkualitas, maka 1 (satu) diantaranya adalah <strong>Anaseva, </strong>yaitu memberikan pelayanan berupa perjamuan makanan. Jadi kalau ada yadnya dilakukan tanpa memberikan pelayanan berupa perjamuan maka kualitasnya masih kurang, begitu penting pelayanan itu dalam Hindu, apapun bentuknya, bagaimanapun caranya, dimanapun tempatnya, yang penting berdasarkan lima landasan tadi atas, jangan pernah ragu lakukanlah pelayanan itu.</p>
<p>Bapak/ibu umat sedharma yang saya hormati, kita juga wajib menghormati dan melayani tamu dan orang tua kita. Dalam pustaka suci kita disebutkan <strong>“ Atity Dewa Bhawa phrtyu dewa bhawa” </strong>hormati/ layanilah tamu-mu karena tamu adalah Tuhan  dan hormati/ layanilah orang tua-mu karena orang tua adalah Tuhan. Dalam tradisi Weda bahwa tuan rumah tidak boleh makan sebelum Tamu atau orang tuanya makan. Demikian pula halnya seorang istri yang baik harus melayani suaminya dengan penuh kasih dan suami harus menjadi pelindung keluarganya, itulah sebabnya dia disebut suami (pelindung). Kalau bercerita masalah melayani lalu maaf “ para WTS itu kan pelayan yang membuat para lelaki hidung poleng/belang senang/puas nafsunya, berarti baik dong profesinya, karena dia selalu melayani kapanpun dia dibutuhkan. Saya lihat bapak-bapak banyak yang menahan senyum… mudah-mudahan diantara kita tidak ada seperti itu. WTS/ WP. Atau apapun namanya yang sejenis itu, yang dia lakukan itu adalah perbuatan Zina. Yang bukan pasangan suami istri itu dilarang keras oleh Weda dan hukumannya sangat berat. Silahkan baca dalam manawa dharma sastra.</p>
<p>Bapak/ibu umat sedharma yang saya hormati, PHDI pun mengeluarkan Bisamanya diharapkan dalam  melaksanakan yadnya atau perayaan hari besar seperti Nyepi dan Dharma shanti, agar menyisihkan 30 % dari anggaran nya untuk pelayanan sosial, berarti PHDI (umat Hindu) konsent dengan pelayanan. Karena melayani / pelayanan adalah adalah sebuah sadana / latihan spiritual dalam mengurangi kemelekatan materi menuju kebebasan tanpa keterikatan. Karena dalam Bhagawad gita Bab III sloka 4 disebutkan “ <strong>Na karmanam anarambham, naiskarmyam puruso ‘stute, na ca samnyasanad eva, siddhim samadhigachati.” </strong>Artinya: <em>Tanpa kerja orang tak akan mencapai kebebasan, demikian juga ia tak akan mencapai kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja.”</em></p>
<p>Begitu pentingnya melayani antar sesama manusia, sehingga orang-orang arif bijaksana menyebutkan “<strong>pelayanan kepada manusia adalah pelayanan kepada Tuhan.” </strong>Karena orang yang melaksanakan pelayanan/kerja dengan tulus penuh cinta kasih berlandaskan lima pilar di atas maka pahala yang diperoleh oleh yang melakukan Raja Yoga, Jnana Yoga dan bhakti Yoga, akan diperoleh pula olehnya. Inilah jalan  yang dianjurkan untuk dilakukan di jaman kali yuga ini, karena dapat dilakukan secara kolektif oleh banyak orang. Bahkan disebutkan dalam bhagawad gita, <strong>bahwa seorang Muni akan mencapai kesempurnaan kalau ia melaksanakan kerja atau pelayanan,” </strong>inti dari pelayanan adalah cinta kasih.  Ada sebuah cerita pendek tentang cinta kasih; <strong>Maha Rsi sanathkumara ayahnda Rsi Narada</strong> memanggil <strong>Rsi Narada</strong>, sabda beliau “anak-Ku  sayang, <em>WEDA dan sastra seperti  hutan lebat.  Berbahaya kalau kehilangan jejak dalam hutan tersebut. Weda dan sastra mempunyai beberapa arti. Arti yang mana saja kau yakini, kesulitannya Sama dengan kemudahan-nya. Oleh karena itu jangan cari susah mencoba mengukur artinya, engkau lebih baik menanamkan rasa bhakti pada Brahman (Tuhan) dan bersatu dengan-Nya menyanyikan keagungan-Nya dalam kegembiraan. (mekidung). Rsi Narada</em> mengusulkan Bhakti sutra-Nya yang terkenal dengan sebutan “<strong>Narada Bhakti Sutra</strong>” yang menjadikan <strong><em>Prema (kasih)</em></strong> sebagai tujuan utama hidup ini dan empat tujuan hidup yang <em>biasa</em>-biasa saja yaitu catur purusa artha, yaitu : Dharma, Artha, Kama dan Moksa (bebas dari ikatan). Dengan mengikis khayalan orang akan mendapat kebahagiaan (ananda), dengan terus menerus menyanyikan keagungan Tuhan dan menari dalam kegembiraan ( seperti saat kita mendak atau nyineb) ide Batara di utama mandala ini, melupakan diri sendiri secara penuh, orang akan memperoleh <strong>Thadathmya</strong> (menjadi satu dengan hyang widhi) itulah tingkat tertinggi dari bhakti yang dijelaskan oleh Rsi Narada sebagai <strong>Parama Prema</strong> (kasih tertinggi). Yang dijadikan <strong>inti Weda oleh Rsi Narada. </strong></p>
<p>Bapak/ibu umat sedharma yang saya hormati, <strong><em>konsep melayani dalam Hindu/ WEDA itu wajib hukumnya. Jadi harus dilakukan berlandaskan : kebenaran, kebajikan, cinta kasih</em></strong>, <strong><em>Kedamaian, dan tanpa kekerasan</em></strong>. Sehingga menghasilkan tanpa keterikatan. Marilah ketuk  hati kita untuk saling melayani berlandaskan kasih sejati itu, maka iri, ego permusuhan dan semua sifat buruk lainnya akan menjauh dan kedamaianlah yang akan mendekati kita. pada hakekatnya  semua  pelayanan yang kita lakukan adalah pelayanan kepada Hyang Widhi, sekecil apapun itu. Baik pelayanan berupa moril ataupun materi, Janganlah pernah ragu akan hal itu. Sehingga nantinya pengurus PHDI, Banjar atau lembaga Hindu lainnya tidak akan susah payah teriak mengajak ibu bapak untuk sekedar sangkepan atau rapat. Karena semua itu membicarakan tentang pelayanan kepada umat. nantinya sulit menemukan sampah dilingkungan Pura ini terlebih di utama mandala ini. Karena sebagian besar atau semua umatnya mempunyai kasih sejati berlomba-lomba untuk saling melayani. Karena semua yang kita lakukan akan berpulang kembali pada diri kita sebagai sebuah karma. Karena Dharma itu hanya Akan melindungi orang yang melaksanakan Dharma itu. Dan akhirnya saya mohon maaf  atas segala kekurangan baik isi maupun cara penyampaian Dharma wacana ini. Saya tutup dengan puja parama shanti”</p>
<p> OM shanty, shanty, shanty, OM…,</p>
<p> </p>
<p align="center">Makassar, 13 Pebruari 2010</p>
<p align="center"><strong>Dharma Wacana Disampaikan padaTilem Keulu </strong></p>
<p align="center"><strong>di Pura Giri Natha Makassar</strong></p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">I MADE WENA</span></strong><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hindu-sulsel.org/in/archives/melayani-dalam-konsep-hindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DOSA ORANG YANG TIDAK BERBHAKTI (MENGASIHI)  CATUR GURU</title>
		<link>http://hindu-sulsel.org/in/archives/dosa-orang-yang-tidak-berbhakti-mengasihi-catur-guru/</link>
		<comments>http://hindu-sulsel.org/in/archives/dosa-orang-yang-tidak-berbhakti-mengasihi-catur-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 00:33:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dharma Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[PHDI Kota Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Bhakti]]></category>
		<category><![CDATA[Catur Guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hindu-sulsel.org/in/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[Om Swastyastu,
Sebelum kami menguraikan tentang dosa dan bhakti trerhadap catur guru terlebih dahulu ada beberapa mantram dalam Atharva Weda.
Atharvaveda I .27.2 
Asamrdda aghayavah
Yang artinya pelaku dosa tak pernah berhasil
Atharvaveda VIII.4.13
Na vau somo vrjinam hinoti
Yang artinya Hyang Widhi tidak menolong orang yang jahat
Atharvaveda II.12.6
Tapumsi tasmai vrjnami santu.
Artinya Perbuatan jahat orang yang berdosa membuat kehidupan menjadi tersiksa.
Dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Om Swastyastu,</strong></p>
<p>Sebelum kami menguraikan tentang dosa dan bhakti trerhadap catur guru terlebih dahulu ada beberapa mantram dalam Atharva Weda.</p>
<p><strong>Atharvaveda I .27.2 </strong></p>
<p><em>Asamrdda aghayavah</em></p>
<p><em>Yang artinya pelaku dosa tak pernah berhasil</em></p>
<p><strong>Atharvaveda VIII.4.13</strong></p>
<p>Na vau somo vrjinam hinoti</p>
<p>Yang artinya Hyang Widhi tidak menolong orang yang jahat</p>
<p><strong>Atharvaveda II.12.6</strong></p>
<p>Tapumsi tasmai vrjnami santu.</p>
<p>Artinya Perbuatan jahat orang yang berdosa membuat kehidupan menjadi tersiksa.</p>
<p>Dari mantram yang telah diuraikan kami uraikan dalam dharma agama dan dharma negara. <strong>P</strong>erbuatan dosa tidak pernah berasil baik, sebab kebaikan tidak pernah bersahabat  dengan kejahatan.<strong>Hyang Widhi</strong> tidak menolong orang yang berdosa. Bila orang sadar akan dosa lakukan <strong><em>prayascitta, </em></strong>penyucian  diri dengan dengan <strong><em>sebanyak-banyaknya berbuat baik</em></strong>. Perbuatan jahat tidak berumur panjang dan pelaku kejahatan selalu <strong>menderita</strong>. Bagaimana membebasdkan diri dari perbuatan dosa dan kejahatan, caranya adalah jangan menyerah atau mengikuti sifat-sifat yang buruk. Sebab terjadinya dosa zaman kaliyuga ini dinyatakan salah satunya : Menginginkan barang/jasa bukan milik kita, menyalahgunakan jabatan/pangkat untuk mendapatkan harta, sinah/selingkuh, minuman memabukkan, keadaan bahaya, judi, dan sejenisnya.</p>
<p><strong>Berbhati Kepada Catur Guru.</strong></p>
<p><strong>Dalam Gurustotra 1, diuraikan mantramnya sebagai berikut :</strong></p>
<p><strong>Dhyàna mùlaý gurur murtiá<br />
Pùjà mùlaý gurur padam,<br />
Mantraý mùlaý gurur vàkyaý<br />
Mokûa mùlam gurur kåpam</strong></p>
<p>(Pada saat mulai belajar pusatkanlah pikiran pada sosok sang guru,<br />
saat mulai melakukan pemujaan, berbaktilah di depan kaki guru,<br />
mantram adalah ajaran pertama kali keluar dari ucapan guru<br />
dan untuk mencapai Moksa mulailah dari karunia guru)<br />
<strong>Kedudukan Guru </strong></p>
<p>Istilah guru dalam bahasa Indonesia berasal dari kosa kata Sanskerta yang artinya: berat, besar, kuat, luas, panjang, penting, sulit, jalan yang sulit, mulia, terhormat, tersayang, agung,sangat kuasa,orang tua (bapak-ibu) dan yang memberikan pendidikan. Istilah lainnya adalah Àcàrya, Adhyapaka, Upadhyaya dan Úiva. Kosa kata yang terakhir ini artinya adalah: yang memberikan keberuntungan atau kerahayuan. Dalam pengertian yang lebih luas, guru adalah yang mendidik pribadi, yang mencurahkan ilmu pengetahuan sucinya dan yang membebaskan siswanya dari lembah penderitaan serta yang membimbing untuk mencapai Moksa sebagai tersebut pada Gurustotra Pengertian tentang guru, terutama penghormatan yang patut diberikan kepada ibu-bapa dan guru yang mendidik secara terinci.</p>
<p>sebagai guru tertinggi dari alam semesta ini tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Guru Param Brahma atau Parameûþiguru sebagai dinyatakan dalam Gurupuja 2, berikut:</p>
<p><strong>Oy Gurur Brahma Gurur Visnuóu<br />
Gurur deva Maheúvara,<br />
Gurur sàkûat Param Brahma<br />
tasmai Úrì gurave namaá.</strong></p>
<p>(Om Hyang Widhi, Engkau adalah Brahma, Visnu dan<br />
Mahedewa, sebagai guru agung, pencipta, pemelihara<br />
pelebur alam semesta. Engkau adalah Guru Tertinggi,<br />
Param Brahma, kepada-Mu aku memuja)</p>
<p>Guru tertinggi di dalam lontar-lontar di Bali kita mengenal Tri Kang Sinanggeh Guru (tiga orang yang disebut guru) atau Triguru, yaitu: Gururùpaka (orang tua, bapa-ibu), Gurupangajyan (guru yang memberi pendidikan dan pengetahuan suci untuk mendapatkan kesempurnaan) dan Guruviúesa (pemerintah yang menjadi abdi kesejahtraan rakyat dan tempat berlindung di kala kesusahan). Di antara ketiga guru itu, Gurupangajyan mendapat penghormatan yang lebih dibandingkan kedua guru lainnya, karena guru Pangajyan adalah guru yang tidak hanya memberikan kesejahtraan jasmani, tetapi ia yang memberikan kebahagiaan rohani yang disebut Dharma, yaitu pendidikan suci berupa kebajikan dan kesucian peribadi.</p>
<p>Gurupangajyan adalah perubahan metathesis dari Guru Pangadhyayan atau Guru Adhyàya atau guru kerohanian.</p>
<p>Setiap orang hendaknya belajar pada hal-hal yang baik yang dapat memberikan teladan dalam berbuat dan bertingkah laku yang baik dan benar. Demikian antara lain beberapa jenis guru yang dapat diungkapkan berdasarkan susastra Hindu, selanjutnya bila kita mengkaji kedudukan guru, maka Paramestiguru adalah yang paling tinggi, Guru Pangjyan lebih tinggi dipandang dari Guru Wisesa maupun Guru Rùpaka, karena Guru Pangjyan memberikan kesucian rohani. </p>
<p><strong>Zaman Kali </strong></p>
<p>Di dalam berbagai kitab Purana ditengarai bahwa sejak penobatan prabhu Parikûit cucu Arjuna sebagai maharaja Hastina pada tanggal 18 Februari 3102 SM., umat manusia telah mulai memasuki jaman Kaliyuga (<strong><em>Gambirananda, 1984 : XIII)</em></strong>. Kata Kaliyuga berarti jaman pertengkaran yang ditandai dengan memudarnya kehidupan spiritual, karena dunia dibelenggu oleh kehidupan material. Orientasi manusia hanyalah pada kesenangan dengan memuaskan nafsu indrawi (Kàma) dan bila hal ini terus diturutkan, maka nafsu itu ibarat api yang disiram dengan minyak tanah atau bensin, tidak akan padam, melainkan menghancurkan diri manusia.</p>
<p>Ciri jaman Kali (Kaliyuga) semakin nyata pada era globalisasi yang ditandai dengan derasnya arus informasi, dimotori oleh perkembangan teknologi dengan muatan filsafat Hedonisme yang hanya berorientasi pada <strong><em>material </em></strong>dan usaha untuk <strong><em>memperoleh kesenangan nafsu berlaka.</em></strong> Dengan tidak mengecilkan arti dampak postif globalisasi, maka dampak negatifnya nampaknya perlu lebih diwaspadai. Globalisasi menghapuskan batas-batas negara atau budaya suatu bangsa. Budaya Barat yang sekuler sangat mudah diserap oleh bangsa-bangsa Timur dan bila hal ini tidak terkendalikan tentu menghancurkan budaya atau peradaban bangsa-bangsa Timur.</p>
<p>Seperti telah dijelaskan secara sepintas tentang arti kata Kaliyuga atau <strong><em>jaman pertengkaran atau masyarakatnya suka bertangkar </em></strong>dan kemudian mengarah kepada <strong>peperanga</strong>n, kini dapat kita rasakan, di mana-mana nampaknya masyarakat mudah <strong><em>tersulut pada pertengkaran.</em></strong></p>
<p>Pusat-pusat pertengkaran yang menghancurkan kehidupan manusia digambarkan dalam <strong><em>kitab Skanda Puràóa, XVII.1,</em></strong> antara lain pada : minuman keras, perjudian, pelacuran, dan harta benda/emas. Hal ini adalah logis, karena pada tempat-tempat tersebut merupakan arena yang sering mengobarkan pertengkaran. Minuman keras menjadikan seseorang mabuk dan bila mabuk maka pikiran, perkataan dan tingkah lakunya sulit untuk dikendalikan. Demikian di tempat judian, pelacuran dan <strong><em>persaingan mencari harta benda yang tidak dilandasi oleh Dharma (kebenaran)</em></strong>, di tempat-tempat tersebut sangat peka meletupnya pertengkaran yang kadang-kadang berakibat fatal, yaitu pembunuhan.</p>
<p>Kehidupan modern yang sekuler,mengantarkan manusia pada kehancuran dan hal ini semakin nyata pengaruhnya dewasa ini. Nilai-nilai moralitas, nilai kemasyarakatan dan ritual Hindu menghadapi tantangan, apakah hal-hal tersebut mampu dipertahankan atau sebaliknya ditinggalkan oleh umatnya? Solusi untuk mengantisipasi permasalahan tersebut hendaknya dikaji secara seksama, sehingga agama Hindu sesuai dengan namanya yakni Sanatana Dharma, agama yang abadi atau berlaku sepanjang jaman benar-benar menjadi pedoman, suluh penerang yang memberikan kebahagiaan kepada umatnya.</p>
<p>Di antara berbagai bentuk tantangan dalam menghadapi globalisasi yang bercirikan filsafat Hedonisme yang berorientasi pada usaha mencari kekayaan material sebanyak-banyak sebagai sarana untuk memperoleh kesenangan duniawi, maka tantangan yang berat bagi umat beragama adalah menegakkan nilai-nilai moralitas, di samping etika dan spiritual seperti pula diamanatkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara sebagai pedoman dasar melaksanakan pembangunan nasional di segala bidang.</p>
<p>Kondisi masyarakat dewasa ini nampaknya persis sama dengan penggambaran<br />
Viûóu Puràóa, sebagai berikut :</p>
<p><strong>&#8220;atha evà bhijana hetuá, dhanam eva aúesadharma hetuá<br />
abhirucir eva dàmpatyasaýbandha hetuá, aórtam eva<br />
vyavahjayaá strìtvam eva&#8217;pabhoga hetuá&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.<br />
&#8230;&#8230;..brahma sùtram eva vipratve hetuá liòga dhàraóam<br />
eva aúrama hetuá&#8221;</strong></p>
<p><strong>Viûóu Puràóa IV. 24. 21-22.</strong><br />
(Masyarakat hancur karena harta benda hanya berfungsi meningkatkan<br />
status sosial/kemewahan bagi seseorang,materi menjadi dasar kehidupan<br />
kepuasan hidup hanyalah kenikmatan seks antara laki-laki dan wanita,<br />
dusta menjadi sumber kesuksesan hidup. Seks merupakan satu-satunya<br />
sumber kenikmatan dan kesalahan merupakan hiasan bagi kehidupan<br />
spiritual)</p>
<p>Demikian pula di dalam kitab Vànaparva, Mahàbhàrata keterangan serupa dapat kita jumpai sebagai berikut :</p>
<p>&#8220;Pada jaman Kaliyuga para Brahmana tidak lagi melakukan upacara<br />
yajña dan mempelajari kitab suci Veda. Mereka meninggalkan tongkat<br />
dan kulit menjangannya dan menjadi pemakan segala (sarvabhàkûa).<br />
Para Brahmana berhenti melaksanakan pemujaan dan para Sudra<br />
menggantikan hal itu.</p>
<p>&#8220;Kelaparan membinasakan kehidupan manusia, jalan-jalan raya dipenuhi<br />
oleh wanita yang reputasinya jelek.<strong><em>Setiap perempuan bertengkar/bermu-<br />
suhan dengan suaminya dan tidak memiliki sopan santun .</em></strong></p>
<p>&#8220;Para Brahmana diliputi oleh dosa dengan membunuh para dwijati dan<br />
menerima sedekah dari para pemimpin yang tidak jujur.</p>
<p>&#8220;Pada jaman itu orang &#8211; orang bertentangan hidupnya dengan nilai-nilai<br />
moralitas,mereka kecanduan dengan minuman keras, mereka melakukan<br />
penyiksaan walaupun di tempat tidur gurunya. Mereka sangat terikat<br />
keduniawian.Mereka hanya mencari kepuasan duniawi terutama daging<br />
dan darah.</p>
<p>&#8220;Pada jaman itu ashram-ashram para pertapa dipenuhi oleh orang-orang<br />
berdosa dan orang-oranng angkara murka yang malang yang selalu me-<br />
ngabdikan hidupnya pada ketergantungan duniawi.</p>
<p>&#8220;Pada jaman itu orang-orang tidak suci baik dalam pikiran dan perbuatan<br />
nya karena mereka iri hati dan dengki. Bumi ini dipenuhi oleh orang-<br />
orang yang penuh dosa dan tidak bermoral.</p>
<p>&#8220;Para wanita mudah celaka, melakukan perbuatan yang tidak pantas dan<br />
melakukan perbuatan yang tidak terpuji, <strong><em>menipu suami-suami mereka<br />
yang berbudi pekerti luhur,</em></strong> melupakan mereka bahkan berhubungan de-<br />
ngan pelayannya dan atau dengan binatang sekalipun.</p>
<p><strong>Aktualisasi Ajaran Catur Guru Bhakti</strong></p>
<p>Mampukah agama Hindu menghadapi arus globalisasi yang sangat dahsyat dewasa ini ? Masihkah relevan rasa bhakti kepada Catur Guru dalam era globalisasi dewasa ini ? Sepintas lalu telah diungkapkan kondisi negatif era globalisasi dewasa ini. dengan tidak mengurangi dampak positif globalisasi ini, globalisasi ditandai oleh kecendrungan penyeragaman tata nilai(hal ini disadari ataupun tidak oleh masyarakat), pola pikir dan pola kerja nampaknya lebih cepat dan lebih baik serta ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Globalisasi juga memperlihatkan kecendrungan dominasi masyarakat maju terhadap masyarakat yang sedang berkembang. Apabila kita kurang arif memberi konsesi,maka umat Hindu akan tidak saja kehilangan identitas,<br />
tetapi juga akan terjadi pendangkalan pengamalan agama dan sangat berbahaya bila pengaruh filsafat hedonisme yang permissif berkembang pesat. Kekuatan global juga mengandung prinsip &#8211; prinsip : individualisme, sekulerisme dan materialisme yang menghendakiindividu selalu bersaing terhadap yang lain untuk memperoleh kemakmuran material, menjadi kaya dan berkuasa, sesuai dengan sifat dari hedonisme itu, yakni mengejar kemewahan dan untuk memuaskan nafsu duniawi.<br />
<strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Pada dasarnya dosa/pahala  itu timbul dari tri kaya parisudha, untuk itu selalulah sucikan pikiran perkataan dan perbuatan, sehingga pada zaman kali ini kita sebagai umat Hndu bisa memilah-milah yang mana perbuatan dharma dan yang mana perbuatan adharma. Bila kita menjalankan dharma agama maupun dharma agama untuk berbhakti kepada catur guru, pasti  akan menghasilkan pahala dan sebaliknya bila tidak berbhakti akan menimbulkan  dosa.</p>
<p><strong>Harapan</strong></p>
<p>Kepada Seluruh Umat Hindu, marilah kita sama-sama berusaha untuk selalu berbhakti kepada catur guru, karena semua pikiran perkataan dan perbuatan kita ini dipersembahkan padanya<strong>. </strong></p>
<p>Demikian yang dapat kami sampaikan, kalau yang bermanfat, itu bersumber dari kitab suci Weda, bila sebaliknya adalah kesalahan kami pribadi sebagai manusia yang tidak sempurna.  </p>
<p><strong>Om Santih, Santih, Santih OM</strong></p>
<p><strong>Makassar, 29 Januari 2010</strong></p>
<p><strong>Pembawa Dharma Wacana,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Wayan Suardana</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hindu-sulsel.org/in/archives/dosa-orang-yang-tidak-berbhakti-mengasihi-catur-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RITUAL TUDANG SIPULUNG TAHUN 2010</title>
		<link>http://hindu-sulsel.org/in/archives/ritual-tudang-sipulung-tahun-2010/</link>
		<comments>http://hindu-sulsel.org/in/archives/ritual-tudang-sipulung-tahun-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 02:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[PHDI Prop. Sulsel]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu Tolotang]]></category>
		<category><![CDATA[Tudang Sipulung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hindu-sulsel.org/in/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Ribuan orang berkumpul. Mereka berasal dari segala lapisan. Dari kalangan rakyat biasa sampai kalangan pejabat berbaur menjadi satu. Dari anak-anak sampai orang tua menyatukan diri menjadi sebuah kumpulan manusia yang jumlahnya ribuan.
Mereka tak lagi menghiraukan kedudukan. Tak ketahuan lagi siapa menduduki apa, jabatannya apa, posisi formalnya apa. Pokoknya mereka berkumpul dan berkumpul serta bersama-sama merasakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ribuan orang berkumpul. Mereka berasal dari segala lapisan. Dari kalangan rakyat biasa sampai kalangan pejabat berbaur menjadi satu. Dari anak-anak sampai orang tua menyatukan diri menjadi sebuah kumpulan manusia yang jumlahnya ribuan.</p>
<p>Mereka tak lagi menghiraukan kedudukan. Tak ketahuan lagi siapa menduduki apa, jabatannya apa, posisi formalnya apa. Pokoknya mereka berkumpul dan berkumpul serta bersama-sama merasakan kedamaian dalam berkumpul. Dalam posisi ini mereka hanya datang dan tak lagi memandang apa kedudukannya.</p>
<p>Itulah <strong>tudang sipulung </strong>yang dilaksanakan umat Hindu dari etnis Bugis di Kab. Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, tanggal 24 Januari 2010. Umat  Hindu di daerah ini menyebut diri mereka Hindu To Lotang (Tolotang).</p>
<p>Tudang sipulung adalah ritual tahunan seluruh warga Hindu Tolotang. Di mana pun mereka berada, pada saat acara ini diadakan, mereka berusaha untuk datang. Seluruh warga merasa punya beban dan kewajiban untuk datang dalam acara ini. Banyak di antara mereka yang datang dari luar kabupaten Sidrap, bahkan dari luar Sul-Sel, karena memang warga ini banyak yang telah sukses dalam perantauan.</p>
<p>Ritual tudang sipulung berlangsung di sebuah tempat yang dianggap suci oleh mereka, yaitu di Parinyameng, Kec. Tellu Limpoe (Amparita). Luas tempat ini kurang lebih 5 ha. Jarak tempat ini dari ibukota kabupaten Sidrap, sekitar 15 km. Sedangkan jarak kota kecamatan, sekitar 5 km. Seluruh warga berjalan kaki menuju ke tempat acara tanpa alas kaki. Jalan sepanjang itu dipenuhi oleh warga yang berjalan kaki.</p>
<p>Ritualnya sendiri berlangsung di tempat khusus (semacam <em>utama mandala</em>), yang dikeliling pagar khusus, yang hanya boleh dimasuki oleh tokoh-tokoh tertentu. Umat kebanyakan secara bergantian akan menerima sesuatu (semacam <em>wasuhpada</em>)dari tokoh ini. Umat berdesak-desakan menuju ke tempat ini namun tetap tertib. Umat yang belum mendapat giliran, akan menunggu dengan tertib di tenda-tenda besar yang mereka siapkan secara gotong royong. Ada juga yang menunggu di bawah pohon, yang memang banyak tumbuh subur di lokasi ini.</p>
<p>Di lokasi ini banyak tenda didirikan. Ada tenda untuk para undangan dan para tokoh. Ada juga tenda umat kebanyakan. Semua mereka dirikan dengan bergotong royong. Proses pengerjaannya berjalan begitu saja, tanpa ada yang perlu diperintah. Semua kebutuhan pendirian tenda dan berbagai keperluan untuk menjamu tamu/undangan, juga disediakan secara gotong royong. “Saya tidak tahu menahu, mereka sediakan semua. Tidak ada yang memerintah mereka” begitu kata <em>Wak </em>Narto (Sunarto Ngate), seorang tokoh Hindu Tolotang, yang juga menjabat sebagai ketua PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) kab. Sidrap.</p>
<p>Di tenda undangan tampak hadir pejabat di daerah ini. Yang hadir pada saat Tudang Sipulung tanggal 24 Januari 2010 antara lain Wakil Bupati Sidrap, Dandim, Kapolres, serta beberapa anggota DPRD, baik itu dari kalangan luar umat maupun dari dalam sendiri. Dari umat Hindu Tolotang sendiri saat ini ada dua legislator yang terpilih.</p>
<p>Selain itu, hadir pula Dirjen Bimas Hindu Departemen Agama RI yang diantar oleh Pembimas Hindu Kanwil Depag Sul-Sel, Ketua PHDI Sul-Sel dan anggota rombongan lain yang berjumlah 5 orang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hindu-sulsel.org/in/archives/ritual-tudang-sipulung-tahun-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SIWARATRI: KITA SEMUA ADALAH PEMBURU</title>
		<link>http://hindu-sulsel.org/in/archives/siwaratri-kita-semua-adalah-pemburu/</link>
		<comments>http://hindu-sulsel.org/in/archives/siwaratri-kita-semua-adalah-pemburu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 05:34:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dharma Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[PHDI Prop. Sulsel]]></category>
		<category><![CDATA[Parisada]]></category>
		<category><![CDATA[Siwaratri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hindu-sulsel.org/in/?p=277</guid>
		<description><![CDATA[Om Swastyastu&#8230;
Mengawali tahun 2010, umat Hindu, khususnya di Sulawesi Selatan, memperoleh kesempatan untuk mengisi Mimbar Agama di TVRI, tepatnya 12 Januari 2010, sebuah momen yang telah lama tiada. Angayubagia ke hadapan Hyang Widhi Wasa atas waranugraha ini.  Sebuah waranugraha yang sangat bermakna dan bernilai.
Momen ini disambut hangat oleh lembaga keumatan di Sul-Sel. Kebetulan juga akhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Om Swastyastu&#8230;</p>
<p>Mengawali tahun 2010, umat Hindu, khususnya di Sulawesi Selatan, memperoleh kesempatan untuk mengisi Mimbar Agama di TVRI, tepatnya 12 Januari 2010, sebuah momen yang telah lama tiada. Angayubagia ke hadapan Hyang Widhi Wasa atas waranugraha ini.  Sebuah waranugraha yang sangat bermakna dan bernilai.</p>
<p>Momen ini disambut hangat oleh lembaga keumatan di Sul-Sel. Kebetulan juga akhir tahun 2009 lalu, PHDI Sul-Sel telah membantuk satu lembaga yang khusus akan menangani manajemen informasi keagamaan Hindu. yaitu BPH (Badan Penyiaran Hindu) Sul-Sel.</p>
<p>Kembali kepada mimbar tadi, temanya adalah Siwaratri. Tema ini diambil mengingat bulan Januari ini terdapat satu hari suci, ya Siwaratri.</p>
<p>Siwaratri terdiri atas dua kata, Siwa dan ratri (malam), atau malam payogan Hyang Siwa.</p>
<p>Siwaratri didasari oleh beberapa Purana, di antaranya adalah Siwa Purana, Garuda Purana, Skanda Purana, dan Padma Purana.  Satu lagi sumber yang senantiasa dijadikan rujukan perayaan Siwaratri adalah Lontar Siwaratrikalpa, karya Mpu Tanakung.</p>
<p>Dalam sumber-sumber di atas, semuanya menggunakan simbol pemburu, yang pergi berburu pada saat hari Siwaratri. Lalu kesasarlah sang pemburu, sampai malam hari, tidak mendapat satu pun hewan buruan. Karena takut pulang, sang pemburu memutuskan untuk tetap tinggal di hutan tersebut. Kemudian, karena takut akan binatang buas, maka naiklah sang pemburu ke atas pohon bilwa (bila, maja). Sambil menunggu siang, sang pemburu memetik-metik daun bila, yang jatuh di atas Siwalingga, yang kebetulan berada pas di bawah pohon tersebut.</p>
<p>Jika kita bawa ke dalam kehidupan manusia, memang benar, bahwa kita semua adalah pemburu. Ada yang berburu harta. Apakah sekadar untuk menyambung hidup atau untuk lebih dari itu. Ada yang berburu jabatan, berburu keinginan, berburu kesenangan, berburu penghargaan, dan sebagainya. Semua jenis &#8220;buruan&#8221; itu diliputi oleh berbagai nafsu/kama, yang di dalam agama Hindu adalah salah satu musuh yang ada bersemayam di dalam diri manusia. Semua jenis nafsu itu adalah binatang buruan manusia, yang dalam berbagai purana tadi disebut dengan berbagai nama, salah satu yang paling dikenal adalah Lubdhaka.</p>
<p>Binatang-binatang yang berwujud nafsu dan berbagai keinginan inilah yang tiada henti diburu oleh manusia kini. Hutannya bisa jadi hutan betulan atau bisa juga hutan beton. kadang-kadang keinginannya terpenuhi, kadang-kadang tidak. Jika tidak terpenuhi, manusia kini yang tak mampu menguasai dirinya akan memanggil binatang lainnya seperti kemarahan, kebencian, iri hati. Bahkan ada yang menyebut nama binatang yang tak patut diburu: anjing, bangsat (kutu busuk), dan sebagainya. Yang lebih parah lagi, ada yang mengakhiri hidupnya sebagai manusia, dengan cara memaksa dirinya mati.</p>
<p>Manusia yang disimbolkan sebagai Lubdhaka tadi, lebih bisa diterima &#8220;jalan keluar&#8221; dari kegagalannya berburu. Dia hanya memetik-metik daun bila. Tidak mengamuk, marah, benci, apalagi mau bunuh diri, karena kegagalannya. Dia tidak melakukan hal itu.</p>
<p>Di zaman kali ini, sepatutnya kita lebih memusatkan diri untuk memerangi musuh-musuh yang bersemayam dalam diri kita, yang biasa disebut dengan sad ripu (enam jenis musuh). Keenamnya yaitu: kemarahan, kelobaan, kenafsuan, kemabukan, iri hati, dan keculasan. Keenamnya itulah yang akan menjerumuskan diri kita ke dalam jurang, jurang kesengsaraan, jurang kepapaan, jurang kenistaan, dan sebagainya. Bhagawadgita menyatakan itu sebagai pintu masuk ke neraka loka.</p>
<p>Memerangi musuh-musuh di atas, bukanlah sesuatu yang mudah. Luar biasa sulitnya. Kemarahan, jika muncul dan tak bisa dikendalikan tunggu saja akibatnya, yang pasti akan merusak diri sendiri.  Kelobaan akan membuat seseorang lupa akan kehadiran orang lain dan juga dirinya. Kemabukan, yang jumlahnya 7 (sapta timira) akan semakin menjauhkan diri manusia dari jati dirinya yang sejati. Mabuk akan keremajaan, kegantengan atau kecantikan diri berapa lama akan bertahan? Kekayaan  bisa memberi  kebaikan, tetapi jika dilanda kemabukan terhadapnya akan membawa pemiliknya menjauh dan makin menjauh dari dirinya.  Mabuk akan keturunan (bangsawan atau anak pejabat misalnya) makin menyempitkan nilai kemanusiaannya, yang bisa jadi akan merendahkan orang lain. Silahkan diteruskan dengan mabuk-mabuk lainnya, apa akibat yang bisa jadi melanda diri manusia.</p>
<p>Dengan mendekatkan diri kepada Hyang Siwa melalui hari suci Siwaratri ini, astungkara, kita akan mampu menghindari musuh-musuh di atas. Jalan pengendalian diri menjadi jalan yang bisa ditempuh. Melihat ke jauh ke dalam hati, jauh dan jauh, akan ditemukan sesuatu kita bersihkan sthana-Nya. Walaupun jauh, sebenarnya sangat dekat.  Mari kita bersihkan sthana Hyang Siwa di dalam hati kita. Mari kita sucikan tempat Beliau, agar Beliau berkenan hadir dan senantiasa bersemayam di sana. Hati kita adalah Pura bagi-Nya. Dengan membersihkan dan menyucikan pura kecil dalam diri kita, sinar suci Beliau akan makin terang bagi kita dan secara perlahan-lahan mampu mengusir embun sad ripu (enam jenis musuh) yang melekat. Dengan begitu, kesadaran akan jati diri kita semakin tumbuh, tumbuh dan berkembang menjadi sebuah kesadaran yang nyata. </p>
<p>Pada suatu kesempatan IBG Agastya menyatakan bahwa: kata kunci dalam kitab-kitab Purana tersebut di atas adalah turu (tidur), tutur (sadar), papa (kesengsaraan), dan punia (pembebasan, kemuliaan). Oleh karena itu, ajaran Siwaratri adalah ajaran universal yang mengingatkan manusia pada hakikat dirinya adalah suci, dan Siwaratri harus dilaksanakan dalam suasana penuh kesucian, dengan melakukan pemusatan pikiran kepada Hyang Siwa yang mahasuci. Inilah hakikat ”perburuan manusia”, yang dimaksud dalam ajaran Siwaratri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hindu-sulsel.org/in/archives/siwaratri-kita-semua-adalah-pemburu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyambutan Tahun Baru Menurut Hindu *)</title>
		<link>http://hindu-sulsel.org/in/archives/penyambutan-tahun-baru-menurut-hindu/</link>
		<comments>http://hindu-sulsel.org/in/archives/penyambutan-tahun-baru-menurut-hindu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 13:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dharma Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[PHDI Prop. Sulsel]]></category>
		<category><![CDATA[Parisada]]></category>
		<category><![CDATA[Tri Sandya]]></category>
		<category><![CDATA[yadnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hindu-sulsel.org/in/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Puja dan puji angayu bagia kehadapan Hyang Widi Wasa/Tuhan yang Maha Esa atas waranugrahaNYAkita dapat bersama – sama di tempat yang kita sucikan ini untuk melaksanakan salah satu bhakti kita dalam kegiatan sembahyang bersama Purnama sasih kepitu di pengujung tahun 2009 menyongsong tahun baru 1 Januari 2010. Tugas dharma wacana yang ditugaskan kepada saya dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puja dan puji angayu bagia kehadapan Hyang Widi Wasa/Tuhan yang Maha Esa atas waranugrahaNYAkita dapat bersama – sama di tempat yang kita sucikan ini untuk melaksanakan salah satu bhakti kita dalam kegiatan sembahyang bersama Purnama sasih kepitu di pengujung tahun 2009 menyongsong tahun baru 1 Januari 2010. Tugas dharma wacana yang ditugaskan kepada saya dengan judul : Pelaksanaan Tahun Baru menurut Hindu. Apa makna dari judul tersebut, mengingat selama ini kita umat Hindu seingat saya belum pernah melaksanakan kegiatan yadnya/sembahyang bersama menyambut tahun baru seperti kita umat Hindu menyambut tahun baru Saka dengan melaksanakan berbagai kegiatan yadnya dan sembahyang bersama. Hanya saja kali ini, kebetulan bertepatan dengan Purnama Kepitu, jadi ya kita bersembahyang bersama.</p>
<p>Pertanyaannya: apakah ada ketentuan yang mewajibkan kita melaksanakan yadnya yang dilanjutkan dengan sembahyang bersama atau sebaliknya dalam menyambut ahun baru Masehi. Nah, sebelum kita dapat menjawab atas pertanyaan tersebut marilah kita kembali tentang makna yadnya dan sembahyang yang biasa kita lakukan. Yadnya adalah korban suci yang dilaksanakan secara tulus ikhlas, tanpa pamrih. Semestinya manusia bertindak melakukan yadnya, Tuhan saja melakukan yadnya yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya. Segala potensi yang ada pada diri manusia bisa dikorbankan untuk kebaikan. Dan itulah yadnya dalam arti seluas-luasnya, yang bukan hanya bermakna sebagai upakara saja.</p>
<p>Semua orang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan untuk setidak-tidaknya untuk memohon perlindungan. Perasaan diri dekat dengan Tuhan dapat menyebabkan seseorang merasa tenang, damai, karena ia yakin bahwa Tuhan akan melindungi dirinya dari mala petaka. Di samping itu, akan memberikan pengaruh kesucian pada dirinya, karena Tuhan bersifat Maha Suci, terlebih-lebih saat ini kita berada pada zaman kali yuga. Zaman yang penuh dengan berbagai hambatan dalam menjalankan dharma.</p>
<p>Berkaitan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, Bhagawadgita IX.34 mengajarkan kita untuk senantiasa memusatkan pikiran kepada-Nya. Selengkapnya sloka IX.34 itu berbunyi:</p>
<p><em>man-manā bhava mad-bhakto mad-yājī māḿ namaskuru mām evaiṣyasi yuktvaivam ātmānaḿ mat-parāyaṇaḥ</em> yang artinya: “Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbaktilah kepada-Ku, bersujudlah kepada-Ku, sembahlah Aku, dan setelah kau mengendalikan dirimu dengan menjadikan Aku sebagai tujuanmu tertinggi, engkau akan tiba pada-Ku.”</p>
<p>Sloka di atas sangat jelas menganjurkan kepada kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan salah satu cara yaitu dengan sembahyang, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama. Sembahyang secara sendiri-sendiri disebut ekanta, sembahyang secara bersama-sama disebut sam kirthanam.</p>
<p><strong>Makna Sembahyang Bersama </strong></p>
<p>Sembahyang bersama sesungguhnya merupakan proses pendidikan yang bernilai sosiologis dan psikologis untuk mendidik seseorang agar bisa hidup bersama secara dinamis di tengah-tengah masyarakat yang heterogen. Dalam sembahyang bersama semestinya setiap orang berusaha untuk mengembangkan aspek-aspek positif dalam dirinya dan membiasakan diri untuk menekan atau mengurangi atau bahkan menghilangkan aspek atau kebiasaan negatif, seperti merokok, berisik atau bersuara keras, dll.</p>
<p>Dalam sembahyang bersama sembahyang bersama seseorang dapat melatih diri dan membiasakan sikap yang tepat dan benar. Suasana dalam sembahyang bersama merupakan suasana yang bisa mendorong tumbuhnya nilai-nilai kerohanian untuk menghidupkan api spiritual yang sangat dibutuhkan dalam menuntun kehidupan yang suci. Sikap dan sifat yang bisa ditumbuhkan adalah saling tolong, kasih saying, ikut merasakan penderiatan orang lain, ikut berbahagia atas keberuntungan orang lain, loyal dalam pergaulan, rela berkorban demi mewujudkan sesuatu yang lebih bernilai dan mulia. Yang penting dalam sembahyang bersama adalah hindari sifat-sifat arogan, egois, iri, dengki, sifat-sifat ekslusif, yang bisa meneyebabkan susahnya kebersamaan. Demikian pentingnya sembahyang bersama.</p>
<p><em>Umat se-Dharma,</em> selanjutnya mari kita menelaah apakah kita wajib beryadnya yang diikuti persembahyangan bersama dalam penyambutan tahun baru masehi?</p>
<p>Hasil Pesamuhan Agung PHDI menyatakan bahwa pelaksanaan yadnya hendaknya didasarkan pada Dharma. Dasar pelaksanaan Dharma bagi umat Hindu adalah Weda. Weda menentukan nilai-nilai pokoknya, yang kemudian oleh para Maharsi yang amat bijak menentukan garis-garis pelaksanaannya. Pelaksanaannya inilah disesuaikan dengan tempat beradanya umat Hindu yang didasarkan atas Catur Dresta. Catur Dresta terdiri atas: 1. Sastra dresta: kebenaran berdasarkan sastra agama; 2. Purwa dresta: kebenaran berdasarkan masa lalu; 3. Loka dresta: kebenaran berdasarkan kesepakatan yang diawali dengan musyawarah; 4. Desa dresta: kebenaran berdasarkan tempat pelaksanaan atau berlangsungnya yadnya.</p>
<p>Dalam Manawa Dharma Sastra juga dikatakan bahwa ada 5 sumber hukum Dharma, yaitu <em>Sruti, Smrti, Sila, Sadacara atau Acara</em>, dan <em>Atmanastuti</em>. 1. <em>Sruti</em>: kata sruti berarti wahyu atau sabda suci Hyang Widhi Wasa, yang terhimpun dalam Catur Weda dan Pancamo Weda (Bhagawadgita). 2. <em>Smrti:</em> juga merupakan sumber hukum Hindu yang ditulis berdasarkan pemikiran bijak dan interpretasi para maharsi, seperti <em>Dharmasastra, Purana, Itihasa</em> 3. <em>Sila</em>: adalah tingkah laku orang-orang suci yang senantiasa mendasarkan diri pada ajaran Weda yang tentunya dapat dijadikan contoh; 4. <em>Sadacara</em> atau acara: adat dan kebiasaan setempat yang diterima dan dijadikan sebagai bagian dari kepercayaan oleh masyarakat setempat. Agama Hindu memberikan pengakuan tegas atas acara ini, sehingga adat diakui sebagai sumber Dharma. 5.<em> Atmanastusti</em>: sesuatu yang membuat orang berbahagia. Karena hal ini sifatnya sangat relatif, ukurannya biasanya adalah apa yang disepakati secara musyawarah. Hal ini timbul apabila ada sesuatu yang belum secara tegas dan tersurat diatur, maka atmanastusti dapat dijadikan ukuran. Ajaran ini juga memberi dasar hukum bagi PHDI dalam merumuskan berbagai kebijakan yang menyangkut kehidupan beragama Hindu.</p>
<p><em>Umat se-Dharma yang berbahagia… </em></p>
<p>Alam semesta menurut agama Hindu disebut makokosmos dan berasal dari Hyang Widhi. Menurut Veda, alam semesta merupakan maya, sakti atau bentuk kasar (sekala) dari Tuhan Yang Maha Kuasa (niskala). Konsep sekala-niskala sama pengertiannya dengan material-spiritual.</p>
<p>Karena alam semesta beserta isinya dipandang berasal dari Tuhan, maka manusia dan alam semesta adalah sesuatu yang sama. Dalam hal ini manusia disebut juga mikrokosmos. Apa yang ada pada makrokosmos ada juga pada mikrokosmos, demikian pula sealiknya. Dikatakan juga bahwa manusia adalah miniature alam semesta yang paling sempurna dan sebagai manajer jagat raya. Hal ini tercantum dalam Veda, dengan ungkapan sarva butha kutumbhakan, semua mahluk adalah bersaudara. Inilah paham Hinduisme yang mengandung paham keluarga semesta.</p>
<p><em>Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara umat se-Dharma,</em></p>
<p> Dari semua uraian di atas, dapat dikatakan bahwa sampai saat ini belum ditemukan secara tertulis tentang aturan pelaksanaan yadnya berkaitan dengan tahun baru masehi. Namun demikian, dari segi urutan Dharma di atas, dapat dikaitkan dengan sadacara/acara dan atmanastusti, hal ini dapat saja dilaksanakan sesuai keadaan umat setempat. Ditinjau dari kosmologi Hindu, walaupun belum ditemukan keharusan melaksanakan yadnya dalam menyongsong tahun baru masehi, sepertinya tidak ada salahnya dilaksanakan sesuai dengan keadaan setempat, misalnya dengan sembahyang. Toh menurut Hindu, umat diharapkan bersembahyang dalam setiap pergantian waktu/kala.</p>
<p>Persembahyangan yang dilakukan sebanyak 3 kali sehari juga didasarkan atas pergantian kala. Malam menjelang pagi dilaksanakan sembahyang (<em>pratah sewanam</em>), pagi menjelang tengah hari dilaksanakan sembahyang (<em>madyandina sewanam</em>), dan sore menjelang malam juga dilaksanakan sembahyang (<em>sandya sewanam</em>). Jumlahnya tiga kali sehari, sehingga disebut tri sandya.</p>
<p>Mengakhiri dharma wacana ini, alangkah baiknya kita panjatkan doa:</p>
<p><em>Om sarwe sukhino bhawantu, sarwe santu niramaya, sarwe badrani pasyantu, makasid dhuka bagbhawet, samastha loka sukhino bhawantu samastha loka sukhino bhawantu samastha loka sukhino bhawantu Om Santih Santih Santih Om…..</em></p>
<p> Secara khusus kepada arwah K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur) kita doakan semoga memperoleh tempat yang layak, sesuai dengan dharma bhakti Beliau: <em>Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu, Om Ksama Sampurna Ya Namah Svada…. </em></p>
<p>Pura Giri Natha Makassar, 31 Desember 2009</p>
<p>N. Suartha</p>
<p> </p>
<p>*) Disampaikan pada persembahyangan bersama Purnama Kepitu, 31 Desember 2009, di Pura Guru Natha, Makassar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hindu-sulsel.org/in/archives/penyambutan-tahun-baru-menurut-hindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Karma</title>
		<link>http://hindu-sulsel.org/in/archives/hukum-karma/</link>
		<comments>http://hindu-sulsel.org/in/archives/hukum-karma/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 03:46:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dharma Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[PHDI Prop. Sulsel]]></category>
		<category><![CDATA[Parisada]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Karma]]></category>
		<category><![CDATA[phala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hindu-sulsel.org/in/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Secara umum orang mengartikan kata karma dengan demikian seram. Saking seramnya, sering muncul nasehat untuk tidak melakukan suatu kesalahan atau dosa, agar tak kena karma. Kesan yang muncul pun seakan-akan karma itu negatif, hanya ganjaran bagi perbuatan salah. Pokoknya ganjaran yang sifatnya menyeramkan. Karma senantiasa dibicarakan sebagai yang tidak baik.
Sejatinya pengertian karma itu tidaklah demikian. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara umum orang mengartikan kata karma dengan demikian seram. Saking seramnya, sering muncul nasehat untuk tidak melakukan suatu kesalahan atau dosa, agar tak kena <em>karma. </em>Kesan yang muncul pun seakan-akan karma itu negatif, hanya ganjaran bagi perbuatan salah. Pokoknya ganjaran yang sifatnya menyeramkan. Karma senantiasa dibicarakan sebagai yang tidak baik.</p>
<p>Sejatinya pengertian karma itu tidaklah demikian. Karma arti sebenarnya adalah <strong>perbuatan</strong>. Karma dapat juga diartikan sebagai hasil dari perbuatan itu. Karena sesungguhnya antara perbuatan dan hasilnya tak pernah bisa dipisahkan. Suatu perbuatan itu sudah satu paket dengan hasilnya, bagaikan dua sisi mata uang.</p>
<p>Selanjutnya, yang dikatakan perbuatan itu adalah pikiran, perkataan, dan tindakan. Mana saja yang dilakukan di antara ketiganya akan berbuah atau membuahkan hasil. Demikianlah karma itu, sehingga karma dianggap sebagai sebuah <em>hukum</em>, yang memiliki kepastian, yang pasti berlaku. Hukum karma demikian ia disebut. Atau lengkapnya disebut dengan <strong><em>hukum karma phala.</em></strong></p>
<p>Hukum karma phala  adalah hukum aksi reaksi, hukum sebab akibat. Oleh karena ada suatu sebab maka akan ada suatu akibat. Oleh karena ada satu aksi, akan ada suatu reaksi, dan seterusnya. Hukum inilah yang mengatur kehidupan makrokosmos dan mikrokosmos, kehidupan di alam semesta dan kehidupan semua mahluk hidup.</p>
<p>Kadangkala keberadaan hukum karma disamakan dengan nasib, bahkan suratan takdir. Di balik itu perlu dipahami bahwa suratan itu ditulis sendiri oleh yang bersangkutan, sama sekali bukan oleh orang atau pihak lain. Kalau perbuatan yang dilakukan baik, ya pasti hasilnya akan baik juga. Kalau yang dilakukan adalah perbuatan yang tidak baik, ya hasilnya juga demikian.</p>
<p>Kitalah yang mendesain nasib kita, bukan orang lain, bukan juga ditentukan sedemikian adanya oleh Pencipta. Tuhan memang diyakini sebagai causa prima, penyebab utama, tetapi dalam hal ini Beliau sebenarnya hanya sebagai <strong><em>saksi abadi.  </em></strong>Beliau hanya mencerminkan, memantulkan, dan bereaksi. Apa yang diperbuat demikianlah terpantulkan kembali kepada yang berbuat. Beliau telah membekali manusia dengan akal/pikiran, budi, ketidakterikatan, perasaan kagum serta hormat. Semua itu sebagai alat timbang untuk melakukan mana yang baik atau buruk, mana yang benar atau yang salah. Semua “alat “ itu, yang merupakan anugrah dan kelebihan manusia di antara mahluk lain, yang hendaknya digunakan secara benar untuk mencapai cita-cita rohani dan tujuan jasmaniah.</p>
<p> </p>
<p><strong>Sifat Hukum Karmaphala</strong></p>
<p> </p>
<ol>
<li><strong><em>Abadi</em></strong><br />
: keberadaan hukum ini dimulai pada saat alam semesta ini ada dan akan berakhir pada saat <em>pralaya </em>(kiamat). Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang tahu kapan penciptaan dan berakhirnya alam semesta ini. Inilah yang menjadi rahasia Pencipta. Penciptaan alam semesta bersamaan dengan penciptaan hukum-hukum yang bekerja secara amat sangat canggiiiih sekali dan memiliki ketepatan yang tiada tara. Hukum grafitasi diciptakan bersamaan dengan diciptakan-Nya alam semesta. Kebetulan saja ada mahluk Tuhan yang bernama Isaac Newton yang menggunakan akal/pikiran dan budinya dengan baik, sehingga berhasil mengungkap “keberadaan” dan “cara kerja” hukum ini, walaupun sebelumnya pun kalau ada benda yang dilemparkan ke atas, pasti akan jatuh lagi ke bumi. Lalu manusia lain mengakuinya dan menamakan hukum ini dengan “hukum Newton”.<br />
 </li>
<li><strong><em>Universal</em></strong>: hukum ini berlaku pada setiap ciptaan Tuhan,. Di mana pun berada, bagaimanapun wujud ciptaan itu, hukum ini berlaku baginya. Mempercayai atau tidak mempercayai keberadaan hukum ini, jika masih berada di alam semesta ini, hukum ini tetap bekerja baginya. Kalau ia berbuat baik, hasilnya pasti baik juga, dan hasilnya dia juga yang akan menikmatinya. Kalau sebaliknya, ya demikian juga. Kalau ada anggapan bahwa hanya kalau berbuat dosa saja kena hukum karma, ya inilah salah kaprah yang luar biasa.</li>
<p> </p>
<li><strong><em>Berlaku sepanjang zaman</em></strong>: pada zaman apa pun hukum ini tetap berlaku dan tidak mengalami perubahan. Baik pada zaman  satya (kerta) yuga, treta yuga, dwapara yuga, kali yuga hukum ini tetap berlaku. Kalau di zaman sekarang (yang diidentifikasi sebagai zaman kali, zaman terakhir)  sepertinya hukum karmaphala ini tidak lagi efektif bekerja, ya anggapan itu keliru lagi. Kalau kelihatan bertentangan, itu hanya penglihatan dan analisis manusia yang sangat terbatas, yang tidak mampu melintasi dan menggabungkan berbagai fakta dari zaman lainnya dengan lengkap. Demikian singkatnya pengetahuan dan pemahaman manusia tak mampu mengungkap lintas zaman tadi, karena rentang waktunya demikian lamaaaaa sekali, yang ribuan bahkan jutaan kali rentang umur manusia. Sedangkan pengetahuan tentang diri dan perbuatannya semasa bayi atau anak-anak saja tak  tersimpan lagi di memorinya, bagaimana mau menyimpan peristiwa lintas zaman?</li>
<p> </p>
<li><strong><em>4.      </em></strong><strong><em>Sempurna: </em></strong>karena kesempurnaannya, kerja hukum ini tak dapat diganggu-gugat, diubah atau dipaksa berubah. Sifatnya konstan dan tidak berubah dari zaman ke zaman. Hukum  ini hanya dapat “ditaklukkan”dengan cara mengikuti alur kerjanya, diiringi dengan keihklasan yang dalam. Kalau menurut penglihatan dan analisis manusia, dia menerima hasil yang tidak sesuai dengan perbuatannya, bisa dipastikan penglihatan dan analisisnya itu tidaklah lengkap. Kalau rasa-rasanya telah dan selalu berbuat baik, lalu hidupnya begitu-begitu saja atau malah menderita sepanjang hayat, mesti ada yang belum terungkap. Ada mata rantai kausalitas yang menyebabkan demikian. Itulah yang tak mampu dijangkau nalar, pikir, dan budi manusia. Karena bak iklan sebuah produk, hukum ini mengikuti yang berbuat atau yang berkarma kapan dan di manapun berada.<strong><em> </em></strong></li>
</ol>
<p> <strong>Jenis Hukum Karmaphala<em></em></strong></p>
<p>Hukum karmaphala diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Bisa berdasarkan masa kehidupan, berdasarkan unsur triguna, berdasarkan kesucian, kebenaran, tri sarira, dan berdasarkan hasilnya.  Lebih jauh jenis-jenis atau pembagian hukum karmaphala itu dapat dijelaskan di bawah ini.</p>
<p> <strong><em>Berdasarkan waktu  atau masa kehidupan</em></strong>, karmaphala dibagi atas <em>sancita, prarabda, </em>dan<em> kriyamana  </em>atau<em> agami. </em></p>
<ol>
<li><em>sancita karmaphala</em>: sancita bisa diumpamakan sebagai tabungan masa lalu. Masa lalu dalam pengertian ini bukan hanya berkisar kehidupan ini saja. Masa lalu yang dimaksudkan adalah masa yang telah lewat dan melintasi berbagai kelahiran. Tabungan itu bisa berupa hasil perbuatan baik atau sebaliknya. Tabungan itu masih ada sampai kini, dan tetap bekerja mempengaruhi jalan hidup seseorang. Inilah terjemahan nasib atau suratan. Sancita karma bisa menjawab dan menjelaskan berbagai perbedaan nasib seseorang saat ini.</li>
<li><em>prarabda karmaphala</em>: adalah karma pada kehidupan saat ini. Apa yang dialami dalam hidup ini adalah buah atau hasil perbuatan masa lalu dan usaha yang dilakukan saat ini. Buah perbuatan masa lalu, kalau masih ada sisa, saat inilah waktunya dipetik. Hal inilah yang menjelaskan fenomena bahwa ada orang yang selalu berbuat baik dalam hidupnya kini, tapi hidupnya tidak ada peningkatan atau malah menderita. Ada yang kelihatannya tidak banyak berbuat baik atau malah melakukan dosa, tetapi kehidupannya tetap baik-baik saja, harta melimpah, dst. Dengan senyum-senyum saja (bintang iklan, misalnya), beberapa orang bisa memperoleh uang jutaan. Sebaliknya, ada yang seharian membanting tulang, hasilnya hanya pas buat makan hari itu.  Semua itu adalah pengaruh dari sancita, tabungan masa lalu, yang saat ini sedang dinikmati hasilnya. Sancita karma dan prarabda tak bisa dipisahkan. Sancita menjelaskan berbagai perbedaan dan “ketimpangan” nasib hidup manusia di masa yang sedang dialaminya kini. Sancita pula yang bisa menjawab mengapa ada yang lahir dengan wajah gagah, atau cantik, lalu memiliki bekal hidup material yang lebih dari cukup. Lalu, ada yang lahir dengan kekurangberuntungan, baik fisiknya maupun bekal hidup.</li>
<p>Lalu, di mana pengaruh <em>prarabda? </em>Apa tidak ada gunanya? Mari dilihat perumpamaan berikut. Kita andaikan perbuatan masa lalu adalah garam yang terlanjur banyak dimasukkan ke dalam sayur. Sayurnya jadi asin. Karena sudah terlanjur, perbuatan itu tak bisa dibatalkan. Garam itu tidak bisa lagi dipungut. Kita hanya bisa menikmati asinnya. Nah, rasa asin ini bisa dikurangi dengan menambahkan air ke dalam sayur tersebut. Perbuatan menambahkan air inilah yang bisa diandaikan dengan <em>prarabda karma. </em>Bukankah tetap ada gunanya? Demikian pula usaha yang dilakukan dalam kehidupan sekarang bisa mengurangi penderitaan sebagai akibat perbuatan masa lalu. Kalau kita menderita sebenarnya kita sedang “melunasi” hutang sisa perbuatan itu.</p>
<li><em>kriyamana karmaphala</em>: adalah karma yang sedang dibuat untuk masa depan. Dapat diumpamakan sebagai kegiatan menabung. Hasilnya bisa dinikmati saat kehidupan ini atau pada hidup sesudah kehidupan ini. Inilah yang memberikan optimisme bagi manusia. <em>Kriyamana </em>adalah harapan masa depan, yang saat ini sedang dirangkai. Dengan bekal <em>manah </em>(akal, pikiran) dan budi, manusia diberi kebebasan menentukan masa depannya. Manusia bisa menyusun sendiri bagaimana bentuk kehidupan yang diinginkan. Inilah kelebihan manusia yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta.</li>
</ol>
<p><strong><em>Berdasarkan  unsur triguna</em></strong>; triguna terdiri atas unsur satwah, rajah, dan tamah. Ketiganya masing-masing membentuk <em>wikarma, sahaja karma, </em>dan <em>akarma.</em></p>
<ol>
<li><em>wikarma:</em> adalah karma yang dihasilkan dari guna satwah, yang sifatnya <em>satwik</em>. Satwah adalah sifat-sifat dalam diri manusia yang dipengaruhi secara kuat oleh Dharma. Yang dapat digolongkan dalam karma yang wikarma antara lain: berkata yang benar dan lemah lembut, bekerja dengan teliti, tenang; berpikir yang benar dan jernih, dan sebagainya.</li>
<li><em>sahaja karma:</em> karma ini dihasilkan dengan guna rajah, sifatnya disebut <em>rajasik</em>. Sifat ini mengarahkan dan mempengaruhi manusia sehingga penuh gairah keinginan, terburu-buru, kurang sabar, dan sebagainya. Bila manusia melakukan berbagai kegiatan dengan sifat-sifat rajasik ini, itulah yang dinamakan sahaja karma. Hasilnya sudah bisa diduga.</li>
<li><em>akarma:</em> sifat <em>tamasik </em>yang mempengaruhi manusia untuk menghasilkan <em>akarma</em>. Tamasik bisa disejajarkan dengan kemalasan. Kadang-kadang <em>akarma</em> dikatakan sebagai tidak berbuat. Arti ini tidak sepenuhnya benar. Tidak ada manusia yang benar-benar tidak berbuat sama sekali. Manusia dibuat tak berdaya oleh hukum karma ini untuk berbuat dan berbuat, walau dalam bentuk yang sangat pasif. Dalam diam pun manusia berbuat, paling tidak manah atau pikirannya yang “berkelana”.</li>
</ol>
<p> </p>
<p><strong><em>Berdasarkan kesucian</em></strong>: atas dasar kesucian perbuatan, karma dibagi menjadi <em>subha karma </em>dan <em>asubha karma. </em></p>
<ol>
<li><em>a.      </em><em>Subha karma</em>: subha artinya suci, jadi subha karma adalah perbuatan yang suci, perbuatan baik. Pikiran yang penuh kedamaian, hati yang penuh rasa kasih sayang, akan menghasilkan ucapan, perkataan, dan tindakan yang similar, sejajar, dan searah dengan itu. Konsep karma memang menyangkut ketiganya (pikir, ucapan, dan tindakan).<em></em></li>
<li><em>Asubha karma</em>: huruf <em>a</em> didepan kata <em>subha </em>membuat makna penyangkalan. Dengan penyangkalan, muncul makna sebaliknya dari yang di atas. Perbuatan-perbuatan yang didasari kegelisahan, kebencian, kekerasan, amarah, dan sebagainya, dikategorikan sebagai <em>asubha karma.</em></li>
</ol>
<p>Dalam kaitannya dengan kedua karma berdasarkan kesucian ini, mucul anekdot bahwa bila kita tidak banyak memiliki <em>tabungan</em> perbuatan baik, maka bila ajal menjemput, kita akan dijemput <em>asu. </em>Yang dimaksudkan bukanlah anjing (asu dalam bahasa Jawa dan Bali berarti anjing), melainkan <em>asubha karma </em>ini.</p>
<p> <strong><em>Berdasarkan  kebenaran</em></strong>: dengan faktor ini, karma dibagi menjadi <em>sat karma, dush karma, </em>dan <em>mirsa karma</em></p>
<p><em>a.      </em><em>Sat karma</em>: adalah karma yang dilaksanakan dengan dasar Dharma (kebenaran). Semua perbuatan yang berlandaskan Dharma dianggap sebagai sat karma.<em></em></p>
<p><em>b.      </em><em>Dush karma</em>: kebalikan dari sat karma disebut dush karma. Dasar perbuatan dush karma adalah yang bertentangan dengan Dharma, seperti yang berdasarkan kroda, moha, matsarya, kama, dan sebagainya.<em></em></p>
<p><em>c.       </em><em>Misra karma</em>: campuran antara sat karma dan dush karma disebut mirsa karma. Manusia pada saat ini, pada zaman kali yuga ini, umumnya melakukan atau menerima hasil karma ini. Karena umumnya manusia kini melakukan keduanya. Tidak ada yang 100 % jahat, atau 100 % baik. Sejahat-jahatnya perampok, selama hidupnya ia pasti pernah berbuat baik. <em></em></p>
<p>Semua hasil perbuatan ini akan kembali ke padanya. Hasil perbuatan baik atau hasil perbuatan buruknya, hanya dial ah yang akan menerimanya, bukan orang lain. Kalau  yang lebih banyak adalah perbuatan buruknya, maka setelah meninggal ia akan menerima hasil perbuatan baiknya terlebih dahulu, kemudian baru menerima hasil perbuatan buruknya. Kalau sebaliknya, lebih banyak perbuatan baiknya; justru ia akan menerima hasil perbuatan buruknya terlebih dahulu, baru kemudian hasil perbuatan baiknya yang dinikmatinya. Jadi tidak ada perbuatan yang sia-sia atau yang tidak dipetik hasilnya menurut hukum karma ini. Tidak ada neraka abadi bagi manusia, bagi manusia jahat sekalipun. Sebaliknya, tidak ada juga surga abadi. Karena surga dan neraka hanya persinggahan sang atman, untuk menentukan “baju” atau badan lain yang cocok dengan hasil karmanya tadi (BG.II.22, Swargarohana Parwa).<em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Berdasarkan tri sarira</strong>: tri sarira adalah tiga jenis badan manusia, yakni stula sarira/badan kasar atau fisik (tangan, kaki, kepala, dsb), suksma sarira atau badan mental, dan badan penyebab (karana sarira).</p>
<p><em>a.      </em><em>Karma fisik</em>: jenis karma ini berakibat pada badan fisik manusia, misalnya saja makan yang kurang teratur akan menyebabkan tubuh sakit.</p>
<p><em>b.      </em><em>Karma astral</em>: karma astral adalah karma yang berasal atau berakibat pada perasaan, misalnya saja ucapan yang lemah lembut akan berakibat pada perasaan yang akan menjadi senang. Atau berbicara tentang makanan enak pada siang hari akan berakibat pada timbulnya rasa lapar, dan sebagainya.  <em></em></p>
<p><em>c.       </em><em>Karma mental</em>: badan mental manusia akab kena pengaruh karma ini. Senantiasa berpikir baik dan positif akan berakibat pada ketenangan diri, kebahagiaan, kedamaian, kegembiraan, rasa optimis dan seterusnya. Perlu dicatat ini juga adalah karma.<em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Berdasarkan hasilnya</strong>, phala atau buah atau hasil suatu karma dibedakan atas dua jenis, yaitu: Vishaya (Wishaya) karma, dan sreyo karma.</p>
<p><em>a.      </em><em>Wishaya karma</em>, disebut juga karma yang mengikat. Keterikatan akan hasil perbuatan adalah <em>wishaya karma. </em>Melakukan suatu perbuatan karena ingin memperoleh imbalan, atau ada pamrih di balik perbuatannya. Jika diperkirakan tidak ada hail baginya, maka tidaklah ia melakukannya. Ketergantungan kepada hasil perbuatan inilah yang dikatakan wishaya. <em></em></p>
<p><em>b.      </em><em>Sreyo karma, </em>adalah membebaskan diri dari ikatan terhadap hasil perbuatan. Kegiatan yang dilakukan dengan tanpa berharap akan hasilnya bukan berarti kerja dengan asal-asalan. Prosesnya tetap diletakkan pada pelaksanaan penuh kompetensi. Bila dilaksanakan dengan kompetensi penuh, lalu ditambah lagi dengan keikhlasan dan tanpa berharap hasil bagi diri sendiri, niscayalah pada pelaksanaannya saja sudah mendatangkan kebahagiaan. Bila mendatangkan kebahagiaan, apalagi saat pelaksanaannya sudah dirasakan, maka karma itu dikatakan <em>atmananda. </em>Seperti pada awal tulisan ini dikatakan bahwa antara perbuatan dan hasilnya tidak dapat dipisahkan, bagai dua sisi mata uang. Tanpa diharapkan pun hasil itu akan datang. Cepat atau lambat, hal itu pasti adanya. <em></em></p>
<p> </p>
<p>Referensi:</p>
<p>Anadas Ra. 2008. <em>Evolusi melalui Reinkarnasi dan Karma. </em>Surabaya: Paramita</p>
<p>Bhagawadgita. Terjemahan Gde Pudja, SH, MA, 1986. Jakarta: Ditjen Bimas Hindu dan Budha</p>
<p>Madrasuta, Ngakan Made. 2009. <em>Petunjuk untuk yang Ragu</em>. Jakarta: Media Hindu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hindu-sulsel.org/in/archives/hukum-karma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KIAMAT MENURUT AJARAN HINDU</title>
		<link>http://hindu-sulsel.org/in/archives/kiamat-menurut-ajaran-hindu/</link>
		<comments>http://hindu-sulsel.org/in/archives/kiamat-menurut-ajaran-hindu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 06:33:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dharma Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[PHDI Kota Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[ajaran Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[pralaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hindu-sulsel.org/in/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Catatan berikut adalah Dharma Wacana yang disampaikan pada Persembahyangan Purnama Kenem di Pura Giri Natha, Makassar, tanggal 1 Desember 2009 kemarin. Semoga ada hal positif yang bisa dipetik. Om A No Bhadrah Kratawo Yantu Wiswatah, Semoga semua pikiran yang baik datang dari segala penjuru. Namaste&#8230;
KIAMAT MENURUT AGAMA HINDU
Para Pinandita yang kami sucikan, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu umat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan berikut adalah Dharma Wacana yang disampaikan pada Persembahyangan Purnama Kenem di Pura Giri Natha, Makassar, tanggal 1 Desember 2009 kemarin. Semoga ada hal positif yang bisa dipetik. Om A No Bhadrah Kratawo Yantu Wiswatah, Semoga semua pikiran yang baik datang dari segala penjuru. Namaste&#8230;</p>
<p><strong>KIAMAT MENURUT AGAMA HINDU</strong></p>
<p><strong>Para Pinandita yang kami sucikan, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu umat se-dharma yang kami hormati, serta adik-adik generasi muda Hindu yang saya sayangi dan saya banggakan. </strong></p>
<p><strong>Pertama-tama terimalah Panganjali kami,</strong></p>
<p><strong>OM Swastyastu</strong></p>
<p><strong>OM Awighnam Astu Namo Sidham </strong><br />
Hari ini sebagaimana kita ketahui merupakan rainan Purnama Sasih Kanem. Marilah kita menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas anugerah yang diberikan-Nya sehingga kita ada dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apapun juga. Yang kedua kami pribadi menyampaikan terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk membawakan dharma wacana kali ini, karena dengan kesempatan ini memacu kami untuk mencari tahu lebih banyak, membaca lebih banyak sehingga harapan kami mampu tampil mewartakan dharma dengan baik.</p>
<p>Pada kesempatan ini, kami sangat tertarik untuk mencari permasalahan aktual yang berkembang akhir-akhir ini, dan kebetulan pada saat kami jalan-jalan di Gramedia, kami menemukan banyak sekali buku (lebih dari 3 judul) yang membahas tentang tahun 2012, lebih spesifik lagi, <strong>KIAMAT 2012</strong>. Dan ternyata bukan buku saja yang banyak mengulas tentang Kiamat 2012 ini, tetapi juga berbagai <strong>acara TV</strong> dalam 1 bulan belakangan ini. Tidak sedikit yang percaya akan ramalan yang sebenarnya bermula dari <strong>Suku Maya</strong> ini (&#8211;manuskrip peninggalan suku Maya system penanggalannya berakhir pada <strong>21-12-2012 </strong>yang diinterpretasikan sebagai kiamat&#8211;), Dan bahkan yang paling fenomenal adalah diluncurkannya film Hollywood dengan judul <strong>“2012”</strong> dan mencetak box office (&#8211;MUI Jatim melarang untuk menonton film ini&#8211;), karena keingintahuan yang sedemikian besar tentang kiamat.</p>
<p>Berbagai kalangan baik agama ataupun secara ilmiah sudah mengungkapkan tentang kiamat. Bahkan yang paling menghebohkan adalah <strong>Teori Kiamat Planet X/Nibiru</strong> yang akan menabrak Bumi pada 21-12-2012 (&#8211;hal ini kemudian terbantahkan secara ilmu astronomi&#8211;). Untuk itu, dalam dharma wacana kali ini kami mengangkat Tema : <strong>KIAMAT MENURUT AGAMA HINDU</strong>. Hal-hal akan dicoba diulas adalah sebagai berikut :</p>
<p>-          Apakah Hindu mengenal konsep kiamat? Jika ya, Bagaimanakah konsep kiamat menurut agama Hindu?</p>
<p>-          Kapan kiamat menurut Hindu?</p>
<p>-          Bagaimana kita menyikapi jaman Kali saat ini?</p>
<p>Baiklah kita mencoba membahas kedua hal tsb satu per satu :</p>
<ol>
<li><strong>a.       </strong><strong>Kiamat menurut agama Hindu </strong></li>
</ol>
<p><strong>Bapak-bapak, Ibu-ibu serta adik-adik yang kami banggakan,</strong> Setelah kami cuplik bagaimana kiamat menurut Suku Maya dan juga Ilmu Pengetahuan Modern sebelumnya, walaupun sebenarnya masih ada banyak lagi paham, golongan maupun agama yang memiliki konsep mengenai Kiamat ini. Pendapat atau pandangan tentang dunia kiamat itu dalam era demokrasi dewasa ini tentunya boleh-boleh saja. Yang patut dijelaskan, khususnya pada kesempatan yang berbahagia ini adalah, <strong>bagaimanakah</strong> <strong>pandangan Hindu tentang dunia kiamat ini</strong>.</p>
<p>Semua ciptaan Tuhan ditata berdasarkan <strong>hukum utpati (tercipta), sthiti (hidup terpelihara) dan pralina (lenyap kembali kepada asalnya)</strong>. Alam dan isinya ini, setelah masanya selesai beredar dan berputar-putar, akan <strong>pralina atau pralaya</strong>.</p>
<p>Istilah kiamat memang tidak dijumpai dalam ajaran Hindu, karena memang itu bukan bahasa Sansekerta, bahasa yang dipakai dalam ajaran Hindu. Namun, yang mirip dengan konsep kiamat adalah <strong>konsep pralina atau pralaya yang ada dalam kitab-kitab Purana</strong>. Dalam kitab-kitab Purana, utpati, sthiti dan pralina dibahas secara khusus. Memang terdapat sedikit perbedaan antara Purana satu dan Purana lainnya mengenai konsep ini. Namun, secara umum menyangkut hal-hal yang substansial tentang pralaya, semua Purana isinya sama, bahwa semua ciptaan Tuhan ini kena <strong>hukum TRI KONA yaitu utpati, sthiti dan pralina</strong> itu.</p>
<p><strong>Empat Konsep Pralaya</strong></p>
<p>Konsep pralaya dalam <strong>Wisnu dan Brahma Purana</strong> ada dinyatakan empat konsep pralaya yaitu:</p>
<p>* <strong><span style="text-decoration: underline;">Nitya Pralaya</span></strong> yaitu proses kematian yang terjadi setiap hari dari semua makhluk hidup. Bahkan dalam diri manusia pun setiap detik ada sel tubuhnya yang mati dan diganti dengan sel baru. Sel tubuh manusia terjadi utpati, sthiti dan pralina.</p>
<p>*<strong><span style="text-decoration: underline;">Naimitika pralaya</span></strong> adalah pralaya yang terjadi dalam satu periode manu. Menurut pandangan ini akan terjadi pralaya terbatas dalam setiap akhir manwantara. Ini artinya akan terjadi 14 kali naimitika pralaya atau kiamat terbatas atau kehancuran alam secara terbatas.</p>
<p>* <strong><span style="text-decoration: underline;">Prakrtika Pralaya</span></strong> yaitu terjadinya pralaya secara total setelah manwantara ke-14. Saat terjadinya Prakrtika Pralaya, seluruh alam semesta beserta isinya lenyap dan kembali pada Brahman atau Tuhan Yang Mahaesa dalam waktu yang panjang atau satu malamnya Brahma. Setelah itu akan terjadi penciptaan lagi dan memulai dengan manwantara pertama lagi. Prakrtika Pralaya inilah yang mungkin identik dengan konsep kiamat menurut kepercayaan lainnya. Karena, semua unsur alam dengan segala isinya kembali pada Brahman. Menurut keyakinan Hindu, hanya Tuhanlah yang kekal abadi. Tapi gambaran dan keadaan mahapralaya sangat berbeda dengan gambaran dan keadaan hari Kiamat. Hari Kiamat digambarkan sebagai kehancuran dasyat yang membawa siksa dan penderitaan tiada taranya bagi manusia. Mahapralaya digambar dengan sangat berbeda: <strong>Brahman adalah kebahagian</strong>; sebab dari kebahagiaan semua mahluk hidup, dalam kebahagiaan mereka semua hidup, dan ke dalam kebahagiaan mereka semua kembali&#8221;!. (<strong>Tattiriya Upanishad</strong>). Seperti seorang meninggal dengan tenang pada usia tua.</p>
<p>* <strong><span style="text-decoration: underline;">Atyantika Pralaya</span></strong> yaitu pralaya yang disebabkan oleh kemampuan spiritualnya melalui suatu pemberdayaan jnana yang amat kuat sehingga seluruh dirinya masuk secara utuh lahir batin kepada Tuhan Brahman.</p>
<ol>
<li><strong>b.      </strong><strong>Kapan Pralaya menurut Hindu?</strong></li>
</ol>
<p>Dalam kitab <strong>Brahma Purana</strong>, dinyatakan satu hari Brahman (satu kalpa) atau satu siang dan satu malamnya Tuhan lamanya 14 manwantara. Satu manwantara = 71 maha yuga. Satu maha yuga = empat zaman yaitu <strong>kerta, treta, dwapara dan kali yuga</strong>. Satu maha yuga = <strong>4,32 juta tahun manusia</strong>.</p>
<p>Sekarang peredaran alam semesta sedang berada pada <strong>manwantara ketujuh</strong> dibawah pimpinan Vaivasvata Manu. Ini artinya pralaya atau kiamat total akan terjadi setelah manu ke-14 berakhir (14&#215;71x10000&#215;432=<strong>4.294.800.000 tahun manusia</strong>). Manu ke-14 adalah Suci sebagai Indra Savarni Manu.</p>
<p>Ada 2 sisi yang kontradiktif antara ilmu pengetahuan dengan agama. <strong>Agama :</strong> <strong><em>Believing is Seeing</em></strong><em> (</em>percaya dulu baru bisa melihat<em>), </em><strong>Science : <em>Seeing is Believing</em></strong><em> (</em>melihat dulu baru bisa percaya<em>). </em>Oleh karena itu, semua dikembalikan pada kita, karena semua perhitungan di atas diluar kemampuan manusia.</p>
<p>Demikianlah konsep pralaya (semacam kiamat) menurut Hindu. Yakinlah, pralaya dalam arti Prakrtika Pralaya tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini, apalagi dinyatakan akhir tahun ini atau 21-12 tahun 2012 mendatang. Sedangkan Nitya Pralaya akan terjadi dalam setiap hari, ada makhluk hidup yang mati dan ada yang lahir.</p>
<ol>
<li><strong>c.       </strong><strong>Bagaimana menyikapi jaman Kali?</strong></li>
</ol>
<p>Lalu, jika memang kiamat itu akan datang, baik dalam waktu dekat ataupun kapan pun datangnya, apakah kita harus khawatir?</p>
<p><strong>Jawabnya adalah : TIDAK. Mengapa?</strong></p>
<p>Dalam <strong>Bhagavadgita 4.7</strong> disampaikan :</p>
<p><em>yada yada hi dharmasya<br />
glanir bhavati bharata<br />
abhyutthanam adharmasya<br />
tadatmanam srjam y aham </em></p>
<p>Kapanpun dan dimanapun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela, pada waktu itulah Aku (Tuhan) sendiri turun untuk menegakkannya kembali”</p>
<p>Jadi disana jelas disebutkan bahwa Tuhan akan turun (mengambil wujud ) setiap terjadi kemerosotan Dharma , kondisi ini akan terjadi terus menerus tidak berhenti pada suatu titik tapi terus terjadi sesuai dengan siklus waktu.</p>
<p>Dalam <strong>Bhagavata Purana (1.1.10) </strong>disampaikan<strong> </strong></p>
<p><em>präyeëälpäyuñaù sabhya<br />
kaläv asmin yuge janäù<br />
mandäù sumanda-matayo<br />
manda-bhägyä hy upadrutäù </em></p>
<p>“Wahai orang-orang yang terpelajar,<br />
dalam jaman Kali, atau jaman besi,<br />
umur manusia sangat pendek.</p>
<p>Mereka suka bertengkar, malas, mudah<br />
disesatkan (salah pimpin), bernasib<br />
malang, dan diatas segala-galanya,<br />
mereka selalu gelisah.”</p>
<p>Berikutnya kami kutipkan dari <strong>Manawa Dharmasastra, I.86</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Tapah param krta yuge</em></p>
<p><em>Tretayam jnanamuscyate.</em></p>
<p><em>Dwapare yajnaewahur</em></p>
<p><em>Danamekam kalau yuge.</em></p>
<p>Artinya: Pada zaman Kerta Yuga, dengan bertapalah cara beragama yang paling utama. Zaman Treta Yuga, beragama dengan mengamalkan ilmu pengetahuan suci (jnana) itulah yang paling utama. Zaman Dwapara, yadnya-lah yang paling utama. Sedangkan pada zaman Kali Yuga, dana punia-lah cara beragama yang paling utama.</p>
<p>Untuk menyelamatkan diri dari pengaruh buruk pada setiap perjalanan yuga itu, <strong>Swami Satya Narayana</strong> menyatakan agar manusia berperilaku seperti zaman atau mengikuti yuga sebelumnya. Misalnya, pada zaman treta, Sri Rama dan para pengikutnya berperilaku mengikuti zaman kerta yuga meskipun Sri Rama hidup pada zaman treta yuga. Sedangkan Rahwana berperilaku seperti zaman kali. Karena itu, Sri Rama dengan pengikutnya selamat hidup di bawah lindungan dharma dan Rahwana hancur karena hidup berdasarkan adharma.</p>
<p>Demikian juga Pandawa dengan Sri Krisna hidup pada zaman dwapara yuga, tetapi perilakunya mengikuti zaman kerta dan treta yuga. Dengan demikian Pandawa dan Sri Krisna memenangkan hidup berdasarkan dharma, sedangkan Korawa hancur karena mengikuti cara hidup yang adharma.</p>
<p>Demikianlah kini, kalau ingin selamat dari pengaruh zaman kali, hiduplah seperti zaman dwapara. Bahkan kalau bisa, ikuti treta atau kerta, maka akan selamatlah dari pengaruh buruk zaman kali. Justru pengaruh baiknya yang akan didapatkan.</p>
<p><strong>Kesimpulan :</strong></p>
<p><strong>Bapak-bapak, Ibu-ibu serta adik-adik yang kami banggakan,</strong> dari pemaparan di atas, dapat kami simpulkan beberapa hal sebagai berikut :</p>
<p>-          Dalam agama Hindu dikenal konsep Pralina atau Pralaya yang dibagi dalam 4 konsep, yaitu : Nitya, Naimitika, Prakrtika dan Atyantika Pralaya.</p>
<p>-          Untuk Prakrtika Pralaya (semacam kiamat) akan terjadi setelah manvantara ke-14 (4,294 milyar tahun), sementara kita saat ini berada pada manvantara ke-7.</p>
<p>Di jaman Kali ini, kita harus mengutamakan sikap/perilaku di jaman <strong>Dwapara (beryadnya)</strong> dan jika memungkinkan mengikuti <strong>Treta Yuga (jnana) atau Kerta Yuga (tapa), </strong>untuk menyelamatkan diri dari pengaruh buruk pada setiap perjalanan yuga. Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan ada manfaatnya dan sebagai penutup, ijinkan kami menyampaikan Parama Shanti :</p>
<p><strong>Om</strong><strong> Shanti, Shanti, Shanti Om</strong>.</p>
<p>Makassar, 1 Desember 2009</p>
<p>Pembawa Dharma Wacana,</p>
<p> </p>
<p>A.A. Pemayun, SE, MM</p>
<p> </p>
<p>Daftar Pustaka :</p>
<ol>
<li>I Ketut Wiana, Posted on 10. Aug, 2009 by <a title="Posts by Speqlen" href="http://speqlen.co.cc/author/admin/">Speqlen</a> in <a title="View all posts in Hindu" href="http://speqlen.co.cc/category/hindu/">Hindu</a>.</li>
<li>A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. 1989. Bhagavad-Gita menurut aslinya.</li>
<li>Berbagai sumber di internet.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hindu-sulsel.org/in/archives/kiamat-menurut-ajaran-hindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
